LOGINSetelah suara mobil benar-benar menghilang di balik gerbang, Evelyn merosot ke sofa. Tangannya gemetar, pipinya masih perih, dan air mata mulai menetes, mengalir di pipi yang memerah.
“Kamu gila menerima tantangan itu.” kata Bram, berdiri di depannya dengan tangan terlipat di dada.Evelyn mendongak, menatap suaminya dengan mata merah dan basah. “Aku nggak punya pilihan lain, Bram. Kamu lihat sendiri gimana dia menyerangku. Kalau aku menolak, dia akan bilang aku memang nggakPak Surya menutup map itu sebelum berdiri dari kursi. “Kalau begitu saya pamit, Bram. Saya sudah menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Sisanya terserah kalian.”Bram berdiri dari kursinya. “Saya antar sampai pintu.”“Tidak perlu.” Pak Surya tersenyum tipis. “Saya masih hafal jalan keluar mansion ini. Lagipula, saya tahu kalian berdua masih perlu banyak berdiskusi.”Ia berjalan keluar dari ruang kerja, meninggalkan Bram dan Evelyn.Beberapa detik kemudian Evelyn izin pamit juga. “A-aku ingin menemui Rara.”Bram mengangguk sekali.~~~Di lorong lantai dua, Pak Surya berpapasan dengan Ibu Wijaya yang sedang berjalan dari arah kamarnya. Senyumnya langsung terukir di wajahnya begitu melihat tamu keluarga lamanya.“Oh, Pak Surya. Kebetulan sekali.” Ibu Wijaya tersenyum sopan, tangannya terulur untuk berjabat. “Bagaimana rapat hari ini? Saya dengar ada pertemuan penting dengan Bram dan Evelyn.”Pak Surya menjabat tangannya dengan hangat. “Cukup baik, Nyonya.”“Syukurlah.” Ibu Wijaya menga
Menjelang siang, saat Evelyn masih berdiskusi dengan kepala koki, ponselnya berdering nyaring di atas meja dapur. Nama Maya terpampang di layar dan Evelyn mengangkat panggilan dengan cepat.“Nyonya, maaf mengganggu di tengah kesibukan Nyonya. Tuan Bram meminta pertemuan dengan seluruh kepala divisi. Beliau mengatakan ini penting dan harus dilakukan sekarang.”Evelyn melihat jam di pergelangan tangannya, lalu menatap meja dapur yang berantakan. Ada banyak keputusan yang masih harus dibuat.“Maya, aku tidak bisa datang sekarang.”Di ujung telepon terdengar hening beberapa detik, seolah Maya sedang mencerna jawaban yang tidak ia duga. “Saya mengerti, Nyonya. Tapi Tuan Bram meminta seluruh kepala divisi hadir.”“Aku akan menghubungi beliau sendiri untuk menjelaskan situasinya, Maya. Tolong sampaikan kepada seluruh kepala divisi bahwa aku akan hadir jika memungkinkan, tapi saat ini aku masih dalam rapat yang tidak bisa ditinggalkan.”“Baik, Nyonya. Saya akan menyampaikan pesan Nyonya.”Tel
Evelyn mengangguk pelan, mencoba menjelaskan. “Aku akan menjadwalkan ulang besok pagi. Aku akan memastikan semua keputusan diambil sebelum—”“Besok para pemasok sudah mulai bekerja, Evelyn.” Ibu Wijaya memotong dengan suara yang tegas. “Mereka membutuhkan keputusan hari ini. Kalau menu terlambat ditentukan, beberapa bahan tidak bisa dipesan tepat waktu, penataan meja ikut terlambat, dan seluruh jadwal dapur berubah. Ini bukan hanya soal makan malam keluarga, ini soal koordinasi yang melibatkan puluhan orang.”Meja makan kembali sunyi.Ibu Wijaya lebih dulu meninggalkan ruangan, meninggalkan keheningan di antara mereka. Kevin mengantar Rara kembali ke kamarnya.Bram memanggil Evelyn. “Evelyn, ikut denganku.” Ia berjalan tanpa menunggu jawaban dan Evelyn mengikutinya.Mereka masuk ke ruang kerja dengan pintu tertutup di belakang mereka. Bram berjalan menuju mejanya, sementara Evelyn berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang penuh penyesalan.Evelyn langsung berkata sebelum Bram sempat
“Mulai minggu depan, seluruh tamu keluarga yang ingin bertemu Evelyn harus dijadwalkan lebih dulu. Di luar jam kerjanya.” Bram menatap ibunya. “Jika ada tamu yang datang mendadak dan bukan urusan darurat, maka merekalah yang harus menyesuaikan. Evelyn tidak bisa terus-menerus ditarik ke dua arah.”Ibu Wijaya langsung menyela, suaranya naik satu oktaf. “Kalau tamunya mendadak? Kalau ada tamu penting yang datang tanpa pemberitahuan?”“Kalau mendadak dan tidak darurat, Bu, berarti mereka yang menyesuaikan. Kita bisa meminta mereka datang di lain waktu, atau kita bisa menjadwalkan pertemuan di tempat yang lebih netral.”Evelyn berdiri diam beberapa saat, lalu ketika Bram berjalan menuju ruang kerjanya, ia pun mengejarnya.“Bram.”Pria itu menoleh.“Kau tidak perlu membuat aturan baru.” Evelyn menggenggam tangannya sendiri, mencari kata-kata yang tepat. “Aku bisa mengatur jadwalku sendiri. Aku tidak ingin kau berselisih dengan Ibu hanya karena aku.”Bram menatapnya beberapa detik, lalu men
Keesokan paginya pukul sembilan tepat, mobil Bram berhenti di depan pintu masuk utama.Evelyn menarik napas dalam-dalam, merapikan blazer yang ia kenakan dan melangkah keluar. Bram mengikuti di sampingnya.Di lobi, Pak Surya dan Clarissa sudah menunggu. Clarissa berdiri di samping ayahnya, ia membawa map yang sudah direvisi.Pak Surya maju lebih dulu, tangannya terulur untuk menjabat Bram. “Terima kasih sudah memajukan jadwal, Bram.”Bram menjabat tangannya. “Silakan, Pak Surya.” Mereka masuk ke ruangan.Ruangan itu lebih kecil dari ruang rapat utama, hanya cukup untuk meja bundar dengan enam kursi di sekelilingnya. Clarissa langsung membagikan proposal yang telah direvisi kepada semua orang di meja dengan salinan tambahan untuk Maya. Evelyn membuka halaman pertama, membaca setiap baris, memeriksa setiap angka, membandingkan revisi dengan proposal awal. Evelyn membalik halaman terakhir, lalu menutup map itu dan meletakkannya di atas meja. Ia menatap Clarissa dengan mata yang tulu
Malam tiba.Seluruh penghuni utama berkumpul di ruang keluarga, duduk di sofa-sofa, menunggu apa yang akan disampaikan Ibu Wijaya.Ibu Wijaya duduk di kursi tunggal. Di hadapannya, sebuah map terbuka sudah ia siapkan sebelumnya.Bram duduk di sebelah Evelyn di sofa utama. Kevin memilih duduk di sofa panjang bersama Rara.Ibu Wijaya membuka map itu. “Aku tidak akan berbicara lama. Rumah ini semakin ramai, tamu keluar masuk tanpa jadwal yang jelas, kegiatan bertambah, dan karena itu mulai hari ini ada beberapa aturan baru yang harus dipatuhi penghuni mansion.”Kevin mengembuskan napas pelan.Ibu Wijaya membaca poin pertama. “Setiap tamu yang datang ke mansion wajib melalui persetujuanku terlebih dahulu, tidak ada tamu yang boleh masuk ke ruang tamu utama tanpa seizinku.”Bram menyela dengan suara datar tapi tegas. “Tidak.”Ibu Wijaya menoleh, alisnya terangkat karena terkejut dengan interupsi putranya. “Apa maksudmu, Bram?”“Kalau tamu datang untuk urusan pekerjaan Evelyn, mereka tetap







