LOGINPagi itu, Evelyn baru saja menyesap teh jahe hangat di ruang makan ketika suara mobil berhenti mendadak di halaman depan, disusul dengan bunyi pintu mobil dibanting keras. Langkah kaki tegas dan cepat terdengar di atas kerikil, lalu pintu utama mansion terbuka lebar tanpa permisi.
Ibu Wijaya melangkah masuk membawa amarah dari ujung rambut hingga ujung sepatu hak tingginya. Wajahnya merah, rahangnya mengeras, matanya menyapu seisi ruang tamu.“BRAM!” Suara itu menggema hinggSesampainya di mansion, suasana sore yang tenang langsung menyambut mereka. Pak Budi yang sudah menunggu di pintu membukakan pintu.“Selamat sore, Tuan. Nyonya.”“Rara di mana?” tanya Evelyn, sudah tidak sabar untuk melihat adiknya.“Sedang belajar membaca bersama Kak Sari di ruang belajar kecil, Nyonya.”Evelyn langsung menuju ruang belajar di ujung koridor. Di sana, ia menemukan Rara duduk di meja kecil dengan buku terbuka di hadapannya. Kak Sari duduk di sampingnya, sesekali membetulkan posisi buku.Rara menoleh dan senyumnya langsung melebar. “Kak Evelyn!” Ia langsung berlari meninggalkan bukunya, memeluk kakaknya dengan erat. “Lihat, aku sudah bisa membaca satu halaman sendiri!”Evelyn tersenyum bangga, membalas pelukan adiknya. “Hebat sekali, Ra.”Kevin yang duduk di sofa di sudut ruangan, ikut bertepuk tangan. “Nah, sebentar lagi kamu bisa baca buku cerita sendiri.”Rara menggeleng cepat, matanya membulat. “Nggak mau, maunya tetap dibacain Kak Kevin.”Kevin tertawa, mengacak ra
Evelyn menatap Bram sekilas, mencari konfirmasi. Bram tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menyesap kopinya dengan tenang.Evelyn kembali memandang Sinta. “Saya tidak mengatakan ditolak, Nona Sinta. Saya mengatakan bahwa proposal ini perlu direvisi.”Sinta menyilangkan tangan, senyumnya berubah menjadi seringai tipis. “Direvisi? Kau cukup berani memberi masukan. Biasanya orang butuh waktu untuk membangun keberanian sebelum mengkritik proposalku.”Evelyn tersenyum tipis. “Saya hanya menjalankan tanggung jawab saya, Nona Sinta.”Sinta mengembuskan napas pelan, ia mengambil kembali proposal itu. “Baiklah.”Ia berdiri, lalu memandang Bram. “Aku tidak menyangka sekarang semua keputusan harus melewati istrimu, Bram.”Bram mengangguk tipis. “Sampai bertemu lagi, Sinta. Semoga revisi proposalnya berjalan lancar.”Sinta menatap Evelyn sekali lagi, lalu berbalik dan melangkah keluar.Evelyn menatap pintu yang baru saja tertutup. “Apa aku tadi terlalu keras?”Bram menggeleng, meletakkan cangkir ko
Dua puluh menit berlalu sejak rapat dimulai. Evelyn tidak banyak berbicara, ia lebih sering bertanya.Bram memperhatikan dari tempat duduknya dengan tangan bersilang di dadanya, mengamati setiap kata yang keluar dari mulut Evelyn.Rapat berakhir setelah hampir dua jam diskusi. Bram berdiri dari kursinya dan berbicara cukup keras untuk didengar semua orang.“Kalau rapat selesai, saya akan menambahkan satu informasi sebelum kita kembali ke tugas masing-masing.”Seluruh perhatian beralih kepadanya.“Mulai bulan depan, seluruh program yayasan berada di bawah pengawasan Nyonya Evelyn Wijaya.”Evelyn menoleh cepat ke arah Bram, matanya membelalak karena terkejut. Salah seorang peserta, pria paruh baya berdiri dengan ekspresi tidak percaya. “Maaf, Tuan Bram. Saya hanya ingin memastikan, apakah ini berarti semua laporan akan disampaikan kepada Nyonya Evelyn?”“Iya, semuanya akan disampaikan kepada Nyonya Evelyn terlebih dahulu. Keputusan operasional akan diambil bersama saya, tapi perlakukan
Beberapa menit kemudian, saat makan malam mulai mereda dan para pelayan mulai membersihkan meja, Pak Budi mendekati Bram. Ia membawa map tipis.“Tuan, daftar peserta rapat besok pagi sudah disiapkan. Mereka meminta konfirmasi terakhir sebelum rapat dimulai.”Bram mengangguk dan mengambil map itu, ia langsung menyerahkannya kepada Evelyn di sampingnya. “Bacalah.”Evelyn menerima map itu lalu membukanya perlahan. Evelyn menelan ludah, menggenggam map itu erat-erat.Kevin melirik. “Wah, kakak beneran akan memimpin rapat itu?”Rara yang sedang asyik dengan makanan penutupnya mendengar kata-kata Kevin ikut penasaran. “Ada apa, Kak Kevin?”Kevin tertawa kecil, mengacak rambut Rara dengan lembut. “Kakakmu besok jadi bos besar, Ra. Dia akan memimpin banyak orang di rapat penting.”Mata Rara berbinar penuh kebanggaan. “Kak Evelyn hebat!”Ibu Wijaya menyandarkan tubuhnya. “Memimpin rapat tidak semudah memakai gaun bagus di acara amal, Evelyn. Di rapat, orang-orang akan menguji kemampuanmu, menc
Sementara di luar kamar, langkah kaki Ibu Wijaya tidak menuju kamarnya. Wanita itu justru berjalan lurus ke ruang kerja Bram di ujung koridor. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu dengan kasar.“Bram.”Bram mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya, pena di tangannya berhenti bergerak. “Ada apa, Bu?”“Aku ingin bicara tentang Kevin.” Ibu Wijaya menutup pintu di belakangnya.Bram menutup map di hadapannya. Ia mengangkat kepalanya, menatap ibunya yang berdiri di ambang pintu.“Ada apa dengan Kevin?” tanya Bram.Ibu Wijaya masuk tanpa dipersilakan. “Adikmu semakin tidak tahu batas, Bram.”Bram tetap duduk, tidak bergeming oleh kemarahan ibunya. “Kenapa? Apa yang Kevin lakukan?”“Ia membelikan buku dan mainan untuk anak itu tanpa seizinku. Ketika aku menegurnya, ia berani berkata bahwa aku salah. Ia berani mengatakan bahwa ibunya sendiri keterlaluan.”“Mereka adalah bagian dari keluarga ini sekarang,
Namun Clarissa tidak langsung bergerak. Ia tetap duduk di sofa, matanya menatap Bram. “Bram, kalau nanti ada waktu... boleh kita makan siang bersama?” Tatapan Ibu Wijaya langsung berpindah kepada Bram. Bram menjawab tanpa ragu, suaranya datar dan tegas. “Kalau untuk urusan pekerjaan, silakan hubungi sekretarisku.” Senyum Clarissa membeku, tidak menyangka akan dijawab dengan cara itu. “Maksudku sebagai teman lama, Bram.” “Aku sudah menikah, Clarissa. Terlalu banyak hal yang harus kujaga. Aku yakin kau mengerti.” Ibu Wijaya menggenggam sandaran kursi erat, wajahnya tegang. Pak Surya yang merasakan ketegangan segera berbalik lebih dulu. “Ayo, Clarissa.” Clarissa mengulurkan tangannya pada Evelyn. “Senang bertemu dengan kalian.” Evelyn membalas dengan senyum sopan, tangannya menjabat tangan Clarissa. “Hati-hati di jalan, Clarissa. Semoga kita bisa bertemu lagi.”







