Share

Bab 32 : Nafsu Rosa

Author: Minerva
last update publish date: 2026-07-17 11:18:19

"Halo, Arga? Ini Mahendra. Kenapa suaramu terdengar berbeda sekali di seberang sana?" tanya Mahendra seraya mengernyitkan dahi, menekan ponsel lebih erat ke daun telinganya.

Keheningan seketika menyergap ruang tengah apartemen itu laksana es yang membeku. Lusty menahan napas di tempatnya berdiri, sementara di sampingnya, Rosa mematung dengan wajah pucat pasi dan jemari yang gemetar hebat.

Suara asing di balik speaker suara ponsel kemudian memberikan penjelasan singkat mengenai situasi terkini d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 134 : Jejak yang Tersisa

    Mobil petugas PLN yang membawa serta segala alat bukti itu baru saja menghilang di tikungan jalan, namun pandangan Lusty masih terpaku lama pada gerbang yang kini tertutup kembali seolah tak ada apa-apa yang baru saja terjadi. Angin sore yang berhembus pelan tak mampu meredakan rasa sesak yang menyelinap di dadanya. Di sampingnya, Raman berdiri diam memegang selembar surat pemeriksaan resmi yang terasa begitu ringan di jari-jarinya, namun menyimpan beban makna yang jauh lebih berat daripada sekadar lembaran kertas bertanda tangan dan cap basah itu.“Mereka datang terlalu cepat, Mas,” ujar Lusty pelan, suaranya nyaris tak terdengar di antara desiran angin, memecah keheningan yang mencekam. “Seolah-olah mereka sudah tahu persis apa yang harus dicari, di mana letaknya, dan bahkan tahu kapan waktu yang paling tepat untuk datang—tepat setelah Dedi dan Sari mengaku jujur pada kita.”Raman mengangguk perlahan, tangannya meremas kertas itu erat hingga pinggirannya sedikit berkerut. “Bukan han

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 133 : Membersihkan Barang Bukti

    Tak sampai satu jam berlalu setelah percakapan itu berakhir, sebuah mobil dinas resmi yang bertuliskan logo besar Perusahaan Listrik Negara berhenti tepat di depan gerbang rumah baru Lusty dan Raman. Dua orang pria berpakaian seragam lengkap dengan perlengkapan kerja turun dengan wajah serius dan terlatih. Raman yang kebetulan sedang merapikan tanaman di halaman depan segera menyambut mereka dengan sopan.“Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu aktivitas Bapak sekeluarga,” ucap salah satu petugas yang tampak lebih senior dengan nada bicara yang resmi dan terukur. “Kami dari kantor pelayanan PLN wilayah setempat. Tadi pagi sistem pemantauan jaringan kami mendeteksi adanya gangguan arus listrik yang tidak wajar dan mencurigakan yang berasal dari alamat rumah ini. Kami diperintahkan untuk datang memeriksa instalasi kabel serta membersihkan perangkat apa pun yang mungkin terpasang secara tidak sah dan mengganggu jalannya aliran listrik utama.”Lusty yang mendengar percakapan itu dari dalam r

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 132 : Langkah Ratna

    Begitu pintu ruang kerjanya tertutup rapat dan terkunci, senyum kepura-puraan Fenina yang tadi ia pertahankan sekuat tenaga seketika luruh berganti kekhawatiran yang nyata dan mencekam. Kakinya terasa lemas seketika, membuatnya terpaksa duduk di tepi meja kerja sambil meremas kedua tangannya yang dingin dan berkeringat dingin. Ia tahu betul bahwa meski tadi ia berhasil membela diri dengan lihai di hadapan Lusty, namun ancaman sebenarnya belum hilang—bahkan justru semakin mendekat. Jika Lusty atau Raman memeriksa setiap sudut rumah itu dan menemukan alat penyadap yang terpasang, tak ada lagi alasan yang bisa ia gunakan untuk menutupi segalanya. Jejak itu akan langsung menunjuk padanya, dan yang lebih mengerikan, akan menyeret nama Ibu Ratna yang merupakan dalang sesungguhnya di balik semua rencana ini.Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia segera mengambil ponselnya dan menekan nomor yang selama ini ia hubungi dengan penuh rasa hormat sekaligus ketakutan yang mendalam. Hening sejenak te

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 131 : Fenina Berkilah

    Langkah kaki Lusty terdengar tenang namun mantap menyusuri lorong kantor pemasaran Mona Beauty Group yang sibuk pagi itu. Di tangannya tak ada niat kasar, hanya keteguhan hati yang dibawa setelah mendengar seluruh pengakuan jujur dari Dedi dan Sari semalam. Ia tidak datang untuk memaki atau meledakkan amarah, melainkan untuk meluruskan segala hal yang selama ini tersembunyi di balik senyum manis Fenina.Saat pintu ruang kerja Fenina terbuka, wanita itu tampak terkejut sejenak namun segera mengubah raut wajahnya menjadi senyum ramah yang biasa ia perlihatkan. “Kak Lusty? Ada apa Kakak datang ke sini tanpa kabar dulu? Silakan duduk.”Lusty duduk dengan tenang, menatap lekat wajah gadis itu. “Aku ingin bicara secara pribadi dan serius, Fenina. Tentang Dedi dan Sari.”Senyum Fenina perlahan memudar, digantikan oleh raut bingung yang dibuat-buat. “Mereka? Ada apa dengan mereka? Apakah mereka berbuat kesalahan yang besar?”“Mereka baru saja menceritakan segalanya padaku,” ujar Lusty tegas n

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 130 : Suara Hati

    “Dedi… aku khawatir.” Sari duduk di tepi tempat tidur kamar kecil mereka, tangannya meremas ujung kain sarung dengan gelisah yang tak kunjung mereda. Malam itu suasana di dalam rumah begitu sunyi senyap, hanya terdengar suara jangkrik dari pekarangan luar dan napas teratur Dedi yang tampak sedang bergumul hebat dengan pikirannya sendiri. Beberapa hari terakhir, perasaan tidak tenang itu semakin menjadi-jadi, seolah ada batu besar yang terus menekan ulu hati. Setiap kali Lusty atau Raman memuji pekerjaan yang mereka kerjakan dengan rapi, setiap kali mereka berbagi makanan atau sekadar bertanya kabar orang tua dan adik-adik di kampung, rasa bersalah itu semakin berat menghimpit dada.“Aku juga merasakannya, Sar. Bukan takut pada Kak Lusty atau Mas Raman… tapi takut pada kebohongan yang terus kita sembunyikan di antara kita,” jawab Dedi pelan, matanya menatap lurus ke arah dinding kamar yang temaram. “Mereka begitu tulus dan terbuka menerima kita apa adanya. Mereka memberi kita tempat ti

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 129 : Fitnah Fenina

    “Kak Lusty… boleh saya bicara sebentar secara pribadi?” Fenina berdiri di ambang pintu ruang kantor Lusty dengan wajah yang dibuat-buat tampak cemas dan sungkan seberat-beratnya. Tangan kanannya meremas erat tali tas kecil yang ia bawa, seolah menyembunyikan beban rahasia yang tak sanggup ia ungkapkan begitu saja. Di dalam hatinya, ia tahu segalanya sudah siap: alat penyadap sudah terpasang sempurna di setiap sudut rumah baru itu, tak ada lagi percakapan atau rahasia yang bisa lepas dari pantauannya. Namun kini Dedi dan Sari sudah tak lagi berguna baginya—bahkan berpotensi menjadi bahaya besar karena perlahan berbalik setia pada pasangan itu. Maka, satu-satunya jalan yang tersisa adalah menyingkirkan mereka secepat mungkin, sebelum mereka sempat membuka rahasia yang disimpan.“Tentu saja, Fenina. Silakan masuk dan duduklah. Ada apa yang membuatmu tampak begitu gelisah?” Lusty perlahan menutup berkas yang sedang dibacanya, lalu menatap gadis itu dengan penuh perhatian dan kesungguhan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status