Sena mengambil ponsel dinas dari nampan yang disodorkan Ina, lalu menggeser layar untuk menerima panggilan. Begitu mendekatkan ponsel ke telinganya, suara lembut bergetar yang sangat ia rindukan memecah keheningan ruang tengah."Sena...? Ini benar kamu, Sena?" bisik Ayu dari seberang telepon. Nada suaranya sarat akan rasa cemas yang bercampur dengan kebahagiaan luar biasa.Sena tersenyum hangat, tatapannya mendadak melunak seketika. "Iya, Ayu. Ini aku. Bagaimana kabarmu dan Ibu di desa?""Aku baik, Sena... Ibu juga baik," sahut Ayu seraya menghembuskan napas lega. Isak tangis haru terdengar tipis di balik sambungan telepon. "Tadi Mbak Irma dan Bidan Desa bantu menyambungkan telepon ini dari kantor puskesmas. Aku... aku rindu sekali padamu, Sena. Bagaimana keadaanmu di kota besar? Tugasmu lancar, kan?""Semua berjalan lancar, Yu," tutur Sena dengan nada suara yang begitu lembut dan menenangkan. "Pasien-pasien kritis sudah berhasil distabilkan hari ini. Kamu tidak perlu cemas, ya. A
Last Updated : 2026-09-02 Read more