"Dimana-mana yang tua dulu, Bidan Irma," sahut Nyonya Sarah menaikkan dagunya."Baiklah Nyonya, silakan Anda dulu," balas Irma mengalah, meski matanya menatap sengit.Nyonya Sarah berdehem pelan seraya merapikan gaun elegannya. "Sekarang, Sena," pukasnya menatap Sena lurus-lurus. "Buktikan kalau ucapanmu tadi bukan sekadar alasan untuk memegang janda itu.""Silakan duduk membelakangi saya di atas dipan, Nyonya," ujar Sena tenang.Nyonya Sarah melangkah anggun lalu duduk di tepi dipan bambu. Sena mendekat, mengoleskan sedikit minyak herbal beraroma terapi di telapak tangannya, lalu menempelkan kedua jemarinya tepat di pangkal leher Nyonya Sarah.Zap..."N-Ngh... hangat sekali," desah Nyonya Sarah tanpa sadar. Matanya terpejam rapat, sementara jemarinya meremas kain gaunnya sendiri saat rasa hangat menembus hingga ke tulang."Ini penekanan titik Jianjing," terang Sena lembut seraya memijat perlahan dengan dorongan Hawa Murni. "Rasa hangat ini yang melelehkan ketegangan syaraf leh
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-18 อ่านเพิ่มเติม