Tara hanya menggeleng heran. Ia memilih menatap lampu jalanan yang bergerak cepat di luar jendela. Ia sengaja membiarkan Kara menghabiskan seluruh sisa emosi dan tenaganya terlebih dahulu melalui sambungan telepon tersebut.“Di mana kau sekarang! Jangan sampai aku berbuat kasar—“"Aku ada di mana, itu urusanku. Dan sekarang, kau sudah selesai memarahiku atas hal yang tak pernah kulakukan?" tanya Tara, sangat datar."Kau!!!”"Kalau sudah selesai berteriak,” potong Tara dengan tegas. “Sekarang giliranmu mendengarkan aku.”Di ujung sana, suara Kara terdengar memburu. Menggeram tertahan menahan amarah yang pastinya bergejolak hebat."Perlu kau tahu satu hal, kakak kembarku termanis,” kata Tara lembut. "Apartemen itu tidak pernah kurebut."Kara langsung menyela. “Mana mungkin!”"Adrian sendiri yang mengalihkan hak kepemilikannya kepadaku,” sahut Tara datar."It
Last Updated : 2026-09-11 Read more