Yanto mematikan mesin mobil di depan rumah Sari. Malam sudah larut, angin desa terasa lebih dingin dari biasanya. Ia menoleh ke jok belakang. "Mbak Sari, sudah sampai. Ayo, saya bantu turun." Sari mengangguk lemah. "Inggih, Mas. Maturnuwun." Pak RT membuka pintu. "Ayo, Mbak! Hati-hati!" Yanto segera ke sisi Sari, memegang lengannya. Sari bersandar ke bahunya. Bau obat dan sedikit aroma susu manis masih tertinggal di tubuhnya. Yanto menelan ludah. "Pelan-pelan aja jalannya, Mbak! Nanti kalau pusing bilang njih." "Iya, Mas…" suara Sari serak. "Badanku rasanya lemes banget." "Wajar Mbak, kan kamu juga masih sakit," sahut Pak RW. Mereka masuk ke rumah. Yanto langsung mengantar Sari ke kamar. "Istirahat dulu, Mbak. Saya buatkan teh hangat biar ada tambahan sedikit tenaga." Pak RT berdiri di ambang pintu. "Yanto, obatnya tak taruh di meja tamu." "Siap, Pak." Yanto langsung membuatkan teh setelah mendapatkan izin dari Sari untuk memakai dapurnya. Ia juga tidak lupa membuatka
Terakhir Diperbarui : 2026-08-30 Baca selengkapnya