“Saya ndak bisa janji, Bu,” bisik Yanto halus, suaranya rendah dan dalam tepat di depan telinga Bu Ningsih. Jemari Yanto terulur, mengusap lembut sisa peluh di pelipis sang janda, menyalurkan sentuhan hangat yang seketika menenangkan detak jantung Bu Ningsih yang berpacu. “Tapi kalau Ibu bisa bersikap tenang dan ndak nekat lagi di depan Mbak Dewi… nanti bisa saya pertimbangkan.” Bu Ningsih mengangguk cepat bagai tersihir, matanya berbinar lega. “I-iya, To… Ibu nurut sama kamu.” Yanto tersenyum tipis seraya berdiri tegap. “Yo wis, ayo kita keluar sekarang, Bu. Biar Mbak Dewi ndak makin curiga.” Bu Ningsih merapikan dasternya dan menata rambutnya yang sedikit acak-acakan sebelum melangkah keluar dari balik tirai. Di ruang depan kontrakan, Dewi sedang mengayunkan sapu lidi dengan telaten. Suara gesekan sapu pada lantai semen berselang-seling dengan hembusan angin sore yang masuk dari pintu gulung yang terbuka separuh. Saat mendengar langkah kaki mendekat, gadis berwajah manis itu
Last Updated : 2026-08-23 Read more