Gu Chen menggeleng perlahan. “Bohong jika aku mengaku tidak ingin punya anak sendiri,” lanjut Gu Chen, matanya kini menatap Anqi dengan sorot yang jauh lebih dalam. “Bagaimanapun juga, Tang Tang bukan darah dagingku. Aku pun mendambakan hadirnya seorang anak kecil yang berlari riang menyambut kita pulang ke rumah seusai lelah bekerja. Seseorang yang membawa napas serta sifat yang menyerupai kita berdua.”Gu Chen berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya menggantung di udara. Anqi memilih tetap bergeming dalam diam, membiarkan suaminya itu menyuarakan isi hati yang paling dalam, meski pada detik yang sama hal itu justru terasa seperti mencabik-cabik perasaannya sendiri.“Tapi, aku bukan orang yang picik, Anqi. Aku sangat tahu kalau memiliki anak itu bukan sekadar urusan biologis semata. Itu sebuah perjuangan dan kesiapan mental yang luar biasa berat. Aku tidak bisa begitu saja memaksamu hanya dengan alasan status pernikahan kita, apalagi setelah aku tahu betapa besarnya trauma masa la
Last Updated : 2026-09-24 Read more