تسجيل الدخولIa menangis tersedu-sedu, tubuhnya bergetar hebat. Rasa sakit yang menghantam dadanya kali ini bukan lagi sekadar sisa luka masa lalu, melainkan rasa sakit yang luar biasa karena ia baru saja dipertemukan kembali dengan bagian dari dirinya yang selama ini hilang.Gu Chen sejak tadi berdiri senyap di balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia memilih untuk tidak masuk, sebab ia tahu persis, ini adalah perang batin yang harus diselesaikan sendiri oleh Anqi. Namun, ketika isak tangis itu berubah menjadi ratapan pilu yang menyayat hati, ia tidak sanggup lagi menahannya. Ia melangkah masuk, lalu mengusap rambut Anqi dengan jemari yang begitu berhati-hati, seolah takut jika ia menyentuhnya sedikit saja terlalu keras, pujaan hatinya itu akan hancur berkeping-keping.Wajah Anqi perlahan terangkat. Gu Chen lantas merengkuh kepala wanita itu ke dalam dekapannya.Namun anehnya, begitu berada di dalam rengkuhan itu, tangis Anqi justru mereda.“Menangislah sepuasmu. Malam ini, buanglah semua l
“Ayo, kita makan. Papa lapar sekali.”“Ayo, Go!”Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sepasang mata di dalam sebuah mobil menatap ke arah kebersamaan kecil itu dengan sorot penuh amarah dan kebencian yang mendalam.“Rencana yang kemarin kita susun... jalankan sekarang juga.”“Baik, Nyonya.”***“Mama, lihat! Gambarku dapat nilai tujuh belas... eh, tujuh!” Tang Tang datang tergopoh-gopoh membawa selembar kertas gambar ke hadapan Anqi yang sedang sibuk mengetik di depan laptopnya di ruang tengah.Gu Chen yang kebetulan sedang meracik kopi di area dapur, diam-diam mencuri dengar obrolan mereka.Ia tahu betul, Anqi pulang lebih awal dari biasanya semata-mata karena ingin berpura-pura menjadi orang tua yang baik untuk Tang Tang. Ia juga sangat sadar bahwa wanita itu masih menyimpan luka dan kekecewaan yang mendalam padanya. Seandainya saja Tang Tang tidak sedang menderita sakit parah, mungkin ia sudah kehilangan Anqi untuk selama-lamanya. Dalam hati, ia sangat membenarkan ucapan Wang
“Katakan!” sahut Anqi cepat dengan nada dingin.“Maukah kau bekerja sama menjadi orang tua yang utuh buat Tang Tang?”Anqi menatap pria itu dengan kening berkerut dalam.“Maksudku... aku ingin memberikan yang terbaik untuk Tang Tang. Kita bisa mengatur jadwal bersama untuk bergantian mengantar dan menjemputnya dari sekolah, atau mengajaknya berjalan-jalan akhir pekan.”“Tidak masalah.” Jawabannya tetap terlontar dengan nada datar dan dingin.Mata Gu Chen seketika berbinar cerah. “Terima kasih, Anqi. Aku harap ini bisa memberikan dampak positif untuk kesembuhannya.”“Kalau sudah selesai, pergilah.”Sesaat, Gu Chen tampak terkesiap. Namun beberapa detik kemudian, ia hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah yang kembali murung.“Baiklah. Aku pergi.”Anqi menjawabnya hanya dengan sebuah anggukan kecil. Tiba-tiba saja Gu Chen menarik tubuhnya ke dalam dekapannya. Dalam diam, Anqi bisa merasakan de
Tang Tang melepaskan pelukannya, menatap wajah Gu Chen dengan pandangan serius yang tak biasa bagi anak seusianya. “Bukan begitu, Pa. Tang Tang cuma mau… cuma…”Suasana yang tadinya terasa hangat mendadak hening. Gu Chen tersenyum lembut, lalu mengusap kepala anak itu dengan penuh kasih sayang. “Iya, Papa mengerti, kok. Papa cuma bercanda. Papa malah sangat senang jika dua orang kesayangan Papa ini saling menyayangi.”Anqi tersenyum getir mendengar kata 'dua kesayangan' itu. Ya, pada akhirnya diriku tidak lebih dari Tang Tang, sama-sama orang dalam tanggungan Gu Chen,” batin Anqi.Anqi sedikit tersentak begitu merasakan sebelah tangan Gu Chen menyusup melewati bahunya, merangkulnya dengan posesif sekaligus protektif. Ia sempat berniat menepisnya, namun sedetik kemudian tersadar bahwa sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.“Lihatlah, bahu Papa cukup lebar, kan? Bisa memeluk kalian berdua sekaligus. Dijamin tidak akan ada yang jatuh,” bisik Gu Chen menenangkan.Tang T
“Jika Mama mencintai Papa, Mama pasti mencintai semua yang dimiliki Papa,” bisik Gu Chen, mengulang ucapan Anqi tadi dengan nada yang dalam, menantang sekaligus memohon.“Apakah itu berarti? Nyatanya hubungan kita hanyalah simbiosis dingin. Kamu menafkahi, dan saya menjalankan peran. Tidak ada ruang untuk transparansi, apalagi cinta.”Wajah Gu Chen seketika berubah kaku dan datar.“Haruskah kamu mengucapkan kata-kata sesakit itu?” protes Gu Chen dengan suara tertahan, sarat akan luka. Tangan Anqi yang tadinya ia genggam seketika terlepas begitu saja.“Aku cuma memperjelas kenyataan. Memangnya tidak begitu? Aku tak lebih dari Tang Tang atau ibumu. Hanya sebaris nama dalam daftar tanggungan yang wajib kamu beri nafkah setiap bulan,” sahut Anqi dingin sambil menjauh. Ia berjalan ke tepi ranjang, lalu duduk dan menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur.“Anqiii!” seru Gu Chen nyaris berteriak, tangannya terkepal erat di sisi tubuh demi menahan gelombang emosi yang mendesak dad
“Tentu saja, aku ingin kita sebagai suami istri seutuhnya. Menua bersama,” sahut Gu Chen cepat.“Kalau begitu, mari kita terbuka soal keuangan. Aku akan memperlihatkan seluruh hartaku, begitu juga kamu, lalu kita hitung pengeluaran rumah tangga secara transparan,” sahut Anqi diplomatis.Gu Chen terdiam.“Kenapa?” tanya Anqi tajam. “Kau tidak percaya padaku?”Gu Chen menggeleng pelan. Ia sempat menghela napas panjang, kemudian meraih kedua tangan Anqi dengan lembut.“Bukan aku tak mau atau tak percaya. Tapi ada situasi keuanganku yang benar-benar tidak bisa aku jelaskan padamu sekarang.”“Situasi apa? Masalah pengobatan Tang Tang? Apa di matamu aku ini wanita sepelit itu?”“Tidak. Bukan begitu. Dan bukan itu alasannya. Aku sungguh tak bisa menjelaskannya sekarang padamu.”Anqi menarik kembali kedua tangannya dengan kasar. “Kalau begitu, kita tetap pada batasan awal. Hubungan ini hanya sebatas transaksi,” tegas Anqi memperjelas pendiriannya.“Anqi, tidak bisakah kau beri aku se







