"Jawab aku, Naya!" raung Dewa frustrasi, menarik rambutnya sendiri layaknya orang gila. "Kamu malah keenakan ditidurin sama Rekha?! Kamu nikmatin kan desahanmu di bawah dia?! Jawab!!" "Bukannya harusnya kamu bersyukur?" Naya menyahut santai, berjalan melintasi suaminya menuju meja rias. "Tugas menjijikkan yang kamu perintahkan udah selesai tanpa aku harus stres. Kalau aku stres dan trauma kayak yang kamu mau, benih Mas Rekha nggak akan bisa tumbuh dengan baik di rahimku." "Jalang murahan!" Dewa mengepalkan tangannya kuat-kuat, kewarasannya ditelan amarah. "Aku bakal bikin perhitungan sama kakakku! Dan aku pastiin, hidupmu bakal jadi neraka di rumah ini, Naya!" Naya tak menjawab, dia hanya melangkah keluar kamar dengan ekspresi tenang, waktunya sarapan, dia sudah sangat lapar. *** Sampai di ruang makan, rupanya sudah berkumpul beberapa anggota keluarga di sana, Nyonya Widya, ibu suri keluarga yang berwajah dingin, tengah menyesap teh-nya tanpa suara. Di seberangnya, duduk Ba
Last Updated : 2026-07-13 Read more