Pintu apartemen mewah bernuansa monokrom itu terbanting menutup, memutus dunia luar yang gila. Rekha menurunkan Naya perlahan di atas sofa beludru ruang tengah, sentuhannya begitu hati-hati seolah wanita itu terbuat dari porselen yang sangat rapuh. "Mana yang sakit, Nay?" berondong Rekha dengan napas masih memburu. Tangannya yang besar dan kasar meraba pergelangan kaki Naya, naik ke betis, lalu memeriksa lengan wanita itu dengan kepanikan yang tak bisa disembunyikan. "Mas Rekha, aku—" "Kaki kamu terkilir waktu dia mendorongmu? Atau punggungmu membentur ujung tangga tadi?" cecar Rekha, matanya memancarkan ketakutan yang luar biasa. "Tubuhmu gemetar hebat, Naya. Beritahu aku, bagian mana yang sakit? Biar kupanggilkan dokter ke sini sekarang juga!" "Mas Rekha, berhenti!" Suara Naya sedikit meninggi, memotong kepanikan pria itu. Tangan mungil Naya terulur, menangkup rahang tegas Rekha yang masih menegang. "Aku nggak apa-apa," bisik Naya, matanya berkaca-kaca menatap wajah pria di ha
Last Updated : 2026-07-27 Read more