Saat malam harinya, Roni duduk santai di teras rumahnya dengan sebatang rokok kretek terselip di antara jari-jarinya. Roni menghisap rokoknya pelan, pikirannya melayang pada kejadian-kejadian hari ini—Pemandangan di rumah Bu Arum, Bu Sri yang tiba-tiba manja, pertemuan dengan Bram yang baik hati, dan Dinda yang... sulit dilupakan. Ia menggeleng, mencoba mengusir bayangan Dinda dari pikirannya. Di kejauhan, ia melihat sesosok pria berjalan dari arah rumah Bram. Roni menyipitkan mata, dan begitu pria itu mendekat, ia mengenali sosok Bram dengan senter di tangannya. “Ron!” sapa Bram ramah sambil mendekati pagar rumah Roni. “Masih santai, nih!” Roni tersenyum, mematikan rokoknya di asbak. “Iya, Mas. Mas mau berangkat mancing?” Bram mengangguk. “Iya, mau berangkat. Pak Kades sudah menunggu di sungai.” Ia berhenti di depan, menatap Roni dengan ekspresi sedikit serius. “Ron, aku titip Dinda ya. Kalau ada apa-ap
Last Updated : 2026-07-17 Read more