LOGIN“Baiklah, Bu. Saya coba bantu memijatnya,” ucap Roni akhirnya.
Bu Sri tersenyum lebar, langsung duduk di kursi dan mengulurkan tangannya pada Roni. Roni duduk di hadapannya, lalu mulai memijat pergelangan tangan Bu Sri dengan gerakan lembut. Wanita itu mendesah pelan, matanya terpejam. “Ah... enak sekali, Ron...” gumam Bu Sri dengan nada nikmat. “Kamu jago memijat... tanganmu terasa hangat...” Roni tersenyum canggung, terus memij"Ron... kau belum tidur?"Roni baru saja hendak masuk ke dalam rumah ketika suara lembut memanggilnya dari arah pagar.Roni menoleh dan melihat Bu Gita berdiri di depan rumahnya, mengenakan daster panjang dengan selendang tipis menutupi bahunya. Rambutnya diikat longgar, dan ia tersenyum ramah. "Kamu sedang apa di teras sendirian?" Tanya Bu Gita.Roni tersenyum tipis, "Hanya... mencari udara segar, Bu. Tidak bisa tidur."Bu Gita melangkah mendekat, berhenti di pagar yang memisahkan halaman mereka. "Aku juga tidak bisa tidur. Kadang malam-malam begini pikiranku kemana-mana." Ia menatap Roni dengan tatapan penuh pengertian. "Kamu kelihatan gelisah. Ada masalah?" Lanjut tanya Bu Gita.Roni menghela napas, "Banyak, Bu. Tapi... tidak enak kalau cerita."Bu Gita tersenyum, "Kalau kau butuh teman bicara, aku mau dengerin kok. Kadang kalau ada masalah, kita hanya butuh seseorang untuk mendengarkan."Roni menatap Bu Gita lama, merasakan ketulusan di matanya. Tapi ia juga merasakan sesuatu ya
Hendra menyeka sudut bibirnya yang masih berdarah, lalu tersenyum sinis. "Pergi sana! Roni, kamu dipecat. Mulai hari ini kamu tidak bekerja di sini lagi." Roni tidak menyanggah karena dia sadar ini adalah konsekuensi tindakannya. Dia menerima keputusan itu dan melangkah pergi. Mata Hendra beralih ke Ajeng, dan senyumnya berubah menjadi lebih halus, lebih menggoda. "Tapi Ajeng... kamu tetap bekerja di sini. Kontrakmu masih berlaku. Kalau kamu keluar sekarang, kau melanggar perjanjian. Aku bisa menuntutmu." Ajeng membeku, wajahnya pucat. "Tapi... aku tidak mau bekerja di sini lagi. Kamu sudah—" "Aku tidak melakukan apa-apa," potong Hendra dengan tenang. "Kamu hanya salah paham. Aku hanya ingin bicara. Tapi suamimu yang terlalu emosional malah memukulku." Ia menyentuh kompres di pipinya. "Ini bisa jadi bukti penganiayaan. Aku bisa lapor polisi." Roni melangkah maju, tapi Ajeng menahannya. "Ron, jangan." Hendra tersenyum puas. "Dengar istrimu, Roni. Dia lebih pintar darimu." Ia men
Mereka berjalan keluar dari toko menuju motor yang terparkir. Namun sebelum mereka sempat menyalakan mesin, suara Hendra memanggil dari pintu toko."Ajeng! Roni! Tunggu sebentar."Roni menoleh, merasakan ketegangan kembali menjalari tubuhnya. Hendra berjalan mendekat dengan senyum ramah, tangannya memegang dua amplop kecil."Ini gaji kalian untuk hari ini. Saya bayar harian dulu, ya. Nanti kalau sudah seminggu, kita hitung mingguan," kata Hendra, menyerahkan amplop pada Roni dan Ajeng.Roni menerimanya dengan hati-hati, "Terima kasih, Pak."Hendra mengangguk, lalu menatap Ajeng dengan tatapan yang lagi-lagi terlalu lama. "Ajeng, besok datang lebih pagi, ya. Ada beberapa laporan yang harus dirapikan."Ajeng mengangguk sopan, "Baik, Pak."Roni menggenggam tangan Ajeng, menariknya pelan menuju motor. "Kita pulang," katanya pelan.Mereka menaiki motor dan melaju pulang. Sepanjang perjalanan, Roni tidak banyak bicara. Ajeng memeluk pinggangnya, merasakan ketegangan di tubuh suaminya."Ron
Saat jam istirahat siang, Roni keluar dari gudang dan menemui Ajeng di meja kasir. Ajeng tersenyum lebar melihatnya, "Ron! Sudah jam istirahat, ya?" Roni menggeleng, "Iya. Kamu gimana? Apa ada masalah dengan kerjanya?" Ajeng menggeleng, "Tidak ada. Pak Hendra baik, tapi..." ia berhenti sejenak, "dia terlalu sering mengajakku bicara. Aku merasa tidak nyaman." Roni merasakan amarah yang mulai membara, tapi ia menahannya. "Kalau kamu tidak nyaman, kita cari pekerjaan lain. Kamu tidak harus di sini." Ajeng meraih tangan Roni, "Tidak. Aku bisa menjaga diri. Lagipula, ini pekerjaan yang bagus. Kita juga bakal butuh uang." Roni menghela napas, "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, langsung bilang padaku." Ajeng mengangguk, "Iya" Mereka makan siang bersama di warung kecil dekat toko. "Ron, pekerjaanmu pasti berat ya?" tanya Ajeng, melihat keringat yang masih membasahi pelipis Roni. Roni tersenyum tipis, "Biasa saja. Aku sudah terbiasa kerja kasar." Ajeng mengangguk, "Semangat ya
Sesampainya di kontrakan, Roni dan Ajeng beristirahat sejenak. Ajeng menyeduh teh untuk mereka berdua, sementara Roni duduk di ruang tamu, memikirkan tentang Hendra. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman yang tadi ia rasakan. "Ron, kamu kenapa? Dari tadi diam saja," tanya Ajeng, duduk di sampingnya. Roni tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Hanya memikirkan kerja besok." Ajeng menatapnya dengan tatapan yang tahu, "Kamu memikirkan Pak Hendra, ya? Aku juga lihat caranya memandangku tadi." Roni terkejut, "Kamu sadar?" Ajeng mengangguk, "Aku bukan anak kecil, Ron. Aku tahu kapan pria memandangku dengan cara yang tidak pantas." Ia meraih tangan Roni, "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan tergoda kamu adalah pria perkasa yang tak tergantikan." Roni menghela napas, "Aku tahu. Aku hanya... tidak ingin ada masalah lagi." Ajeng mencium pipi Roni, "Tidak akan ada masalah. Kita fokus pada hidup kita. Besok kamu mulai bekerja di gudang. Aku akan mencari pekerjaan la
Pagi tiba, Roni terbangun dengan kepala berat dan hati yang masih diliputi rasa bersalah. Di sampingnya, Ajeng masih terlelap dengan napas teratur, tangannya masih melingkar di pinggang Roni. Roni menatap wajah istrinya yang tenang, lalu dengan hati-hati melepaskan pelukan dan bangkit dari ranjang. Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dengan air dingin, lalu keluar. Suasana kontrakan masih sunyi. Roni melirik ke arah kontrakan Desi yanh pintunya masih tertutup, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Roni menghela napas panjang, memikirkan langkah selanjutnya. Ia harus mencari pekerjaan dan fokus pada hidup barunya bersama Ajeng. Tak lama kemudian, Ajeng bangun dan bergabung dengannya. Ia membawa dua cangkir kopi hangat yang baru ia seduh. "Kenapa nggak bangunin aku kalau sudah bangun?," katanya, mencium pipi Roni. Roni tersenyum tipis, "Hari ini aku mau cari kerjai." Ajeng duduk di sampingnya, menyerahkan satu cangkir kopi. "Aku juga ingin cari kerja. Aku t







