Home / Male Adult / Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua! / Bab 15 - Pekerjaan untuk Roni

Share

Bab 15 - Pekerjaan untuk Roni

Author: Frands
last update publish date: 2026-07-16 19:01:24

Bram mengangguk. “Iya. Aku sudah bekerja di puskesmas kota selama lima tahun. Gaji memang besar. Tapi Dinda sering mengeluh. Dia bilang dia lelah dengan hiruk-pikuk kota. Dia ingin hidup sederhana, dekat dengan alam.”

Ia tertawa kecil, menatap kopinya. “Awalnya aku ragu. Tapi aku melihat Dinda semakin murung hingga membuatku tidak tega. Jadi, ketika ada mutasi di puskesmas desa ini, aku langsung menerimanya. Dinda sangat senang. Dan aku... aku juga mulai menikmati s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 21 - Godaan dan Ancaman

    Setengah jam berlalu. Ningrum masih duduk di teras, matanya terus menatap ke arah jalan gelap dengan cemas. Roni di sampingnya juga diam, tapi ada satu masalah besar yang mengganggunya—pergerakan di celana pendeknya belum juga mereda.  Roni menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangan ke tempat lain. Tapi setiap kali Ningrum bergerak atau menyesuaikan posisi duduknya, celana pendeknya naik sedikit, memperlihatkan lebih banyak kulit putih di pahanya.  Ningrum akhirnya berdiri, gelisah. “Ron, aku tidak bisa diam saja. Aku harus mencari ibu. Aku takut terjadi sesuatu.” Roni juga berdiri, tapi begitu ia melangkah, ia langsung menyadari sesuatu—ia tidak bisa berjalan normal. Celana pendeknya sesak, dan setiap langkah terasa menyakitkan dan memalukan.  Ia terpaksa berjalan dengan sedikit membungkuk, berusaha menyembunyikan “masalah” yang masih jelas terlihat di balik kain tipisnya. “Iya...

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 20 - Godaan Belum Mereda

    Roni terkejut, hampir tersedak. “M-Mbak?! Maksud Mbak apa?”“Aku serius, Roni.” Dinda menatapnya dengan mata yang tajam tapi tidak marah. “Aku ingin tahu. Apakah kamu tertarik padaku?”Roni menggeleng cepat, terlalu cepat. “Tidak, Mbak. Aku tidak mungkin karena mbak itu istri orang.”Dinda tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu. “Kalau... aku bukan istri orang?” tanyanya pelan. “Kalau aku bukan istri Mas Bram? Apakah kamu tertarik padaku?”Roni terdiam, dadanya berdegup kencang. Pertanyaan itu seperti menusuk langsung ke pikirannya yang selama ini ia tahan. “Mbak Dinda,” suara Roni serak, “aku tidak pernah berpikir untuk tertarik dengan wanita. Aku hanya pemuda miskin. Setiap kali aku mendekati wanita, aku hanya mendapat penolakan. Jadi aku sudah tidak berpikir tentang hal itu.”Dinda menatapnya lama, lalu tersenyum. “Kamu berbohong, Roni.”Roni mengerjapkan mata. “Maksud Mbak?”Dinda

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 19 - Apa Kamu... Tertarik Padaku?

    “Uh... Mbak, aku pulang dulu—“ Roni mulai mundur. “Ron, tunggu!” Dinda meraih tangannya cepat. “Aku buatkan kopi untukmu. Sebentar saja. Sebagai ucapan terima kasih.” Roni menggeleng sopan. “Tidak usah, Mbak. Sudah malam. Mbak juga harus istirahat.” “Ah, enggak kok,” Dinda memaksa dengan nada sedikit memohon. “Aku biasanya kalau jam segini ngeteh dulu, jadi sekalian ya.” Roni ragu sejenak, melihat ekspresi Dinda yang tulus. Akhirnya ia menghela napas dan mengangguk. “Baiklah, Mbak.” Dinda tersenyum lega. “Kalau begitu tunggu di ruang tamu. Aku buatkan.” Roni melangkah ke ruang tamu, duduk di kursi kayu yang empuk. Matanya mengamati sekeliling—rumah ini dulu kosong, kini terasa hangat dengan sentuhan Dinda.  Ada vas bunga di meja, taplak bermotif, dan beberapa buku berserakan di rak. Beberapa menit kemudian, Dinda muncul denga

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 18 - Gara-gara Tikus

    Saat malam harinya, Roni duduk santai di teras rumahnya dengan sebatang rokok kretek terselip di antara jari-jarinya. Roni menghisap rokoknya pelan, pikirannya melayang pada kejadian-kejadian hari ini—Pemandangan di rumah Bu Arum, Bu Sri yang tiba-tiba manja, pertemuan dengan Bram yang baik hati, dan Dinda yang... sulit dilupakan. Ia menggeleng, mencoba mengusir bayangan Dinda dari pikirannya. Di kejauhan, ia melihat sesosok pria berjalan dari arah rumah Bram. Roni menyipitkan mata, dan begitu pria itu mendekat, ia mengenali sosok Bram dengan senter di tangannya. “Ron!” sapa Bram ramah sambil mendekati pagar rumah Roni. “Masih santai, nih!” Roni tersenyum, mematikan rokoknya di asbak. “Iya, Mas. Mas mau berangkat mancing?” Bram mengangguk. “Iya, mau berangkat. Pak Kades sudah menunggu di sungai.” Ia berhenti di depan, menatap Roni dengan ekspresi sedikit serius. “Ron, aku titip Dinda ya. Kalau ada apa-ap

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 17 - Aku Takut Sendirian

    Beberapa jam berlalu, dan matahari mulai bergeser ke barat. Roni akhirnya menyelesaikan rumput di halaman depan. Halaman yang tadinya penuh semak belukar kini rapi dan bersih. Roni kembali mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan, puas dengan hasil kerjanya. Ia baru saja hendak mengambil kaosnya yang sudah kering di pagar ketika langkah kaki terdengar dari jalan masuk. Roni menoleh, dan melihat Bram berjalan kembali dari puskesmas dengan wajah cerah. “Wah, Ron! Sudah selesai?” Bram tersenyum lebar melihat halaman yang rapi. “Bagus sekali! Aku tidak menyangka kamu bisa secepat ini.” Roni tersenyum malu. “Ya, Mas. Lumayan. Aku gak enak kalau lama-lamain kerjaan. Semoga Mas Bram suka dengan pekerjaanku.” Bram berjalan mendekat, menepuk pundak Roni yang masih basah oleh keringat. “Memuaskan sekali, Ron. Rumput ini tadi sudah tinggi hampir sepinggang, sekarang rapi seperti lapangan.” Ia tertawa puas. “

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 16 - Tubuhmu Bagus

    Matahari semakin meninggi, Roni baru setengah selesai memotong rumput. Tubuhnya terasa lengket akibat keringat yang membasahi kaos yang ia kenakan. “Ahhh.. kaosku sampai basah begini!” Gumam Roni sambil menarik kaosnya dan melepasnya. Entah dia sengaja atau lupa kalau sedang bekerja di rumah Dinda kala itu. Kaosnya yang basah itu ia letakkan di pagar kayu, membiarkan angin panas mengeringkannya. Dadanya yang bidang dan perutnya yang rata kini terpapar sinar matahari, kulitnya sedikit kecokelatan karena terbiasa bekerja di luar ruangan. Ia mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan, menikmati hembusan angin yang terasa lebih segar di kulitnya yang basah. “Ah... lebih enak begini,” gumamnya pelan. Di saat yang sama, pintu rumah terbuka. Dinda keluar dengan langkah ringan, membawa sebuah teko kaca berisi cairan berwarna merah muda dan gelas kosong di tangan lainnya. Dinda menghentik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status