"Baik, Bu. Sebentar saja," jawab Roni akhirnya, mendekati kasur. Ia duduk di ujung kasur, lalu dengan hati-hati mengangkat kaki Bu Arum dan meletakkannya di pangkuannya. Tangannya mulai memijat pelan pergelangan kaki, lalu perlahan naik ke betis, menekan lembut otot-otot yang tegang. Bu Arum mengerang pelan, kali ini bukan karena sakit, tapi karena rasa lega. "Ah... enak, Ron. Tanganmu hangat." Roni terus memijat betis Bu Arum dengan gerakan hati-hati, berharap wanita itu segera tertidur. Namun tiba-tiba, Bu Arum menggenggam pergelangan tangannya, menghentikan gerakannya. "Ron," bisik Bu Arum, suaranya lembut, "pahaku juga masih terasa nyeri. Apa kau bisa... memijatnya juga?" Roni tersentak, tangannya membeku di udara. "P-paha, Bu? Tapi—" "Aku mohon padamu, Ron," potong Bu Arum cepat, matanya menatap Roni dengan tatapan memohon. "Aku benar-benar kesakitan. Aku tidak bisa menggapainya sendiri. T
Last Updated : 2026-07-27 Read more