Beberapa menit yang terasa seperti selamanya, mereka saling memuaskan, melepaskan semua ketegangan yang tertahan. Setelah itu, mereka berbaring diam, masih saling berpelukan. Bu Arum tersenyum puas, tangannya mengusap dada Roni. "Kau luar biasa, Ron. Aku tidak akan bosan denganmu." Roni tersenyum tipis, tapi pikirannya sudah kembali pada Tika dan Pak Kades. "Bu Arum, saya harus pergi. Ada yang harus saya kerjakan." Bu Arum mengangguk, tidak memaksa. "Baiklah. Tapi ingat, Ron, aku selalu ada untukmu." Roni merapikan pakaiannya dengan cepat, lalu melangkah keluar dari kamar Bu Arum. Ia baru saja hendak berjalan cepat meninggalkan rumah itu ketika pintu kamar di seberang terbuka. Tika muncul di ambang pintu, matanya langsung tertuju pada Roni. Ekspresinya berubah dari datar menjadi tajam dalam sekejap. "Roni? Kenapa kau di sini?" Roni tersentak, jantungnya berdegup kencang. Ia berusaha menjaga ekspresi tetap tenang meskipun panik menjalari tubuhnya. "Ah, Tika... aku tadi—" "Kenaoa
Last Updated : 2026-07-29 Read more