Mentari menatap Nilam dengan sorot mata penuh harap. Sejak tadi, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan tentang sikap Dewa yang semakin sulit ia pahami. Perhatian kecil, candaan, cara lelaki itu memandangnya, bahkan kepeduliannya yang terkadang terasa terlalu personal.Semakin dipikirkan, semakin kepalanya terasa penuh. Ia akhirnya memberanikan diri meminta pendapat satu-satunya teman yang menurutnya cukup berani mengatakan sesuatu apa adanya."Katakan, Nilam! Kenapa Pak Dewa seperti itu? Apa itu wajar?" tanya Mentari.Nilam diam sejenak. Tangannya yang semula memainkan sedotan di dalam gelas berhenti bergerak. Raut wajahnya mendadak serius, seolah pertanyaan Mentari bukan sesuatu yang bisa dijawab sambil bercanda."Ada dua jawabannya, Mentari. Pak Dewa tulus pengen ngelindungin kamu karena ada rasa. Atau dia melakukan itu semua karena ada maunya," jawab Nilam serius.Mentari menahan napas. Dadanya terasa sesak mendengar jawaban itu. Bukan karena Nilam mengatakan sesuatu yang baru,
Last Updated : 2026-09-22 Read more