"Kenapa? Kamu suka aku begini?" tanya Dewa sambil tersenyum menggoda, sorot matanya berkelip nakal. 'Ya Elah, pake nanya… Ya sukalah!' batin Mentari. Tapi yang keluar dari bibirnya justru, "Pak! Tolong jangan nanya yang aneh-aneh! Dan saya harus pergi, Pak. Mau mandi." Dewa mendekat selangkah. "Kenapa? Gerah, ya?" Astaga. Mentari menelan ludah. "Cukup, Pak! Berhenti menggoda saya!" "Kamu deg-degan, hm?" bisik Dewa, suaranya rendah dan dalam. Mentari menggeleng cepat. "Pak, saya masih sibuk. Masih banyak yang harus saya lakukan. Tolong minggir." Dewa mengangkat sebelah alis. "Oke. Aku akan minggir. Tapi ada syaratnya." Alis Mentari refleks berkerut. "Syarat apa, Pak?" "Berikan aku bibirmu," jawab Dewa datar. "Baru aku akan melepaskanmu." "Pak—ummph…!" Belum sempat Mentari menjawab, Dewa sudah mengunci bibirnya. Meraupnya lembut di awal, lalu segera berubah intens dan tak sabaran. "Nnhh…" desah Mentari tertahan di sela ciuman. Dewa menekan lebih dalam. Lidahnya menyusup, men
Última atualização : 2026-09-21 Ler mais