Pesona Tuan Majikan Yang Luar Biasa

Pesona Tuan Majikan Yang Luar Biasa

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-23
โดย:  CH. Blue Lilacอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
15 การให้คะแนน. 15 ความคิดเห็น
104บท
6.6Kviews
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

(Area Dewasa) Niat Mentari kerja di rumah mewah keluarga Mahendra adalah murni untuk mencari uang demi biaya pengobatan orang tuanya. Tapi sebagai perempuan normal, Mentari juga tidak bisa menolak pesona sang majikan yang begitu luar biasa. Dewangga Mahendra Pratama— tubuhnya tinggi, tegap, dan atletis. Bahu yang lebar, serta dada bidang berotot lengkap dengan paras yang tampan serta tatapan tajam, membuat Mentari nyaris gila setiap berdekatan dengannya. Mentari ingin mengabaikan semua itu dan tetap fokus pada pekerjaannya. Namun karena satu kejadian, semua benteng pertahanan Mentari akhirnya runtuh juga. "Pak Dewa... Sentuh aku! Jadikan aku milikmu," rengek Mentari dengan tatapan sayu tak berdaya. "Kalau kau yang memintanya, aku tidak akan bisa menolak, Mentari," balas Dewa dengan mata berkilat penuh gairah. "Tapi jangan salahkan aku, jika kau mulai ketagihan sentuhanku."

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Bab 01: Hal Yang Seharusnya Tidak Kulihat

Jantung Mentari berdegup liar bagai dihantam palu. Wajahnya seketika memanas. Ia buru-buru mundur dan meringkuk di balik dinding pembatas sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Sayangnya, ia masih bisa menangkap jelas suara basah saat dua tubuh majikannya itu menyatu, lengkap dengan desahan serta erangan yang berat dan intimidatif.

"A-astaga?! Apa yang Pak Dewa dan Bu Kania lakukan di sana? Kenapa mereka harus bercinta di tempat seperti itu?" Gadis itu menempelkan punggungnya pada permukaan dinding marmer yang dingin, berharap rasa dingin itu bisa meredakan kepanikan yang mendidih di balik dadanya.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangan yang gemetaran. Maksud hati ingin mengambil segelas air hangat di dapur untuk meredakan rasa hausnya, justru membuatnya terjebak di tengah kemesraan majikannya sendiri di tengah malam yang sunyi.

Dari balik celah dinding pembatas, pandangan Mentari tertuju ke arah mereka berdua. Siluet tegap Dewa terlihat begitu mendominasi. Pria berusia 35 tahun itu tampak sangat berkarisma—bahunya lebar dan kokoh, rahangnya terukir tegas, sementara otot-otot dada bidangnya yang bertelanjang tampak menegang penuh aura maskulin yang intimidatif. Sosok majikannya itu memancarkan daya pikat pria dewasa yang berbahaya, tipe pria yang sanggup meruntuhkan pertahanan wanita manapun dalam sekali tatap.

"Astaga..." Sensasi asing bercampur ketakutan merayapi sekujur tubuh Mentari. Darahnya berdesir hebat, membuat napasnya tertahan di tenggorokan.

Namun, tepat saat gairah di ruang tengah itu berada di puncaknya, sebuah nada dering telepon memecah atmosfer panas tersebut.

Drrr... drrr...

Irama nyaring itu berdering tanpa kompromi dari ponsel Kania yang tergeletak di atas meja kaca.

Di atas sofa, Kania yang sedang berada dalam cengkeraman gairah seketika tersentak kaget. Perhatiannya teralih sepenuhnya pada ponsel di atas meja. Tanpa ragu, Kania tiba-tiba mendorong kuat dada bidang suaminya.

"Mas! Sebentar!" katanya sambil mengatur napas.

"Ada apa?!" tanya Dewa frustasi, matanya menahan gejolak gairah yang menggantung. "Kita baru mau mulai, Kania."

"Sebentar, Mas! Ada telepon," balas Kania sedikit panik.

"Tapi Kania, sudah seminggu aku menunggu momen ini!" suara Dewa rendah menahan amarah, napasnya memburu tebal di udara malam.

"Aku paham, Mas. Tapi ini telepon penting," balas Kania dengan wajah memelas, berharap suaminya mengalah.

"Biarkan saja! Kita selesaikan ini dulu," potong Dewa tegas. "Sudah lama kita tidak bercinta!"

Kania menggeleng dan menunjukkan layar ponselnya. "Ini dari Rina. Aku khawatir ada gaun yang tidak sesuai untuk acara besok."

"Tapi—"

"Sebentar saja. Lima menit, oke?" pangkas Kania acuh.

Tanpa memperdulikan suaminya, wanita itu menarik gaun tidurnya ke bawah lalu berjalan ke arah balkon dan menjawab telepon dengan suara sangat tenang, kontras dengan suasananya tadi. "Halo, Rin. Ada apa?"

Dewa menyingkir dari sofa dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras tajam, urat-urat di lehernya menonjol tebal. Frustasi dan marah bercampur dengan nafsu yang menggantung membuat fisiknya terlihat amat intimidatif.

"Kamu selalu seperti ini! Aku suamimu, aku juga ingin menikmati momen selayaknya suami istri!" protes Dewa, gusar melihat istrinya berjalan menjauh ke balkon.

Kania bukannya merasa bersalah, justru melambaikan tangan meminta suaminya diam agar tidak mengganggu percakapannya di telepon. "Ssstt... Mas! Jangan berisik! Aku sedang menerima telepon penting ini!" pangkas Kania dingin sebelum melangkah semakin jauh.

"Halo? Iya, Rin? Ada apa?" suara Kania menghilang di balik pintu balkon, menyisakan keheningan yang amat dingin di ruang tengah.

Mentari yang masih bersembunyi di balik dinding merasakan atmosfer ruangan mendadak berubah drastis. Matanya terpaku pada sosok Dewa yang kini terdiam mematung di tepi sofa.

Pria itu menunduk, mengepalkan jemari tangannya erat-erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tebal. Urat di leher tegapnya menegang hebat, menahan gejolak frustasi yang menggantung di udara.

Dewa perlahan mengusap wajah tampannya dengan kasar. Ketika pria itu mendongak menatap langit-langit, Mentari bisa menangkap raut kecewa yang amat mendalam terukir di sana. Tak ada amarah yang meledak-ledak, hanya ada tatapan lelah, terluka, dan hampa dari seorang pria yang baru saja diabaikan dan direndahkan egonya oleh istrinya sendiri di momen paling intim.

'Kasihan Pak Dewa,' batin Mentari terenyuh.

Rasa iba yang tak masuk akal mendadak menyusup ke dalam dada Mentari, berpilin dengan kepanikan yang sejak tadi menghimpitnya. Bagaimana mungkin seorang Dewa Mahendra Pratama diperlakukan sedingin itu oleh istrinya sendiri? Pria yang seharusnya dipuja dan di hati justru selalu ditaruh di urutan sekian setelah urusan pekerjaan Kania.

'Ah, sudahlah! Lebih baik aku pergi dari sini sebelum ketahuan,' putus Mentari kemudian.

Mentari hendak pergi dari sana, saat tanpa sengaja kakinya menyenggol pot keramik di sudut koridor. Suara gesekan itu memecah keheningan malam.

'Ya Tuhan!' Jantung Mentari seperti berhenti berdetak saat itu juga.

"Siapa di sana?!" seru Dewa tajam, matanya menoleh cepat ke arah koridor. Suara beratnya bergema penuh ancaman yang menggetarkan udara.

Sensasi horor langsung melingkupi sekujur tubuh Mentari. Dengan segala kepanikan yang mendera, gadis itu memutar tubuh dan melangkah secepat mungkin menuju kamarnya.

Jantungnya berdegup kencang, napasnya terengah-engah. Ia langsung merosot lemas di balik pintu kamarnya akibat kejadian barusan.

"Ya Tuhan... Jangan sampai Pak Dewa tahu kalau aku yang mengintip," desis Mentari gemetar dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu di luar, Dewa bangkit dari sofa. Pria itu hanya melilitkan handuk putih di pinggang tegapnya yang kekar, membiarkan tubuh bagian atasnya yang atletis dan berotot terpapar jelas. Dengan langkah kaki penuh tekanan, Dewa berjalan keluar menuju lorong tempat asal suara tadi.

Sorot mata elangnya yang dingin dan tajam meneliti tiap sudut koridor. Pandangannya terhenti tepat pada pot keramik yang tampak sedikit bergeser dari posisi semula, meninggalkan jejak goresan tipis di lantai marmer.

Dewa menyipitkan mata. Pandangannya menembus kegelapan lorong yang mengarah langsung ke area kamar pelayan di sudut belakang. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada. Seringai tipis yang dingin, misterius, dan sarat akan intimidasi perlahan terbit di sudut bibirnya.

"Ternyata di rumah ini, ada kucing kecil yang suka mengintip."

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ความคิดเห็นเพิ่มเติม

fazaa
fazaa
aaaa suka banget sama alurnya seru.... mampir juga di story aku ya judulnya " Rahasia Malam Sultan"
2026-09-01 19:30:35
0
0
Ratu As
Ratu As
cowok ganteng kok dianggurin? haduh, sikat ajah Mentari 🫣🫣 ceritanya seru, 🫰🫰
2026-08-20 20:34:02
1
0
Callme_Tata
Callme_Tata
Yang lebih hot dong kakak
2026-08-19 13:57:45
1
0
My Nona
My Nona
seru banget, gak berhenti baca
2026-08-19 09:23:58
1
0
Dre LA
Dre LA
cinta terlarang yang luar biasa
2026-08-19 09:10:45
0
0
104
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status