LOGIN(Area Dewasa) Mentari hanyalah ART yang tidak sengaja terjebak hubungan panas dengan majikannya, Dewangga. Di tengah peliknya kehidupan, majikannya itu memberikan tawaran yang tak pernah Mentari duga sebelumnya— menjadi teman tidur sang majikan. Di antara pilihan yang rumit, Mentari harus memilih, bertahan pada ideologinya untuk menolak tawaran Dewa, atau sebaliknya, menjadi penghangat ranjang majikannya yang haus sentuhan. "Berhenti malu-malu begitu, Tari! Aku tau kau juga menginginkannya?" —Dewa 38 tahun "Aku hanya ingin fokus bekerja dan melunasi semua hutang keluarga, tapi pesona Pak Dewa sungguh sangat menggoda."— Mentari 23 tahun
View More"Mmmh..." desah Mentari lirih di sela ciuman halus itu, meracau penuh kepasrahan. "Pak Dewa, tolong sentuh aku, Pak... Aku menginginkan Bapak..."Dewa menahan napas. Jantungnya berdetak kencang bagaikan dihentak godam, darahnya berdesir hebat mendengar namanya dipanggil begitu lembut dan menuntut dalam ciuman pasrah gadis itu. Ada dorongan gairah alami yang amat kuat sebagai pria dewasa saat tubuh hangat Mentari menyatu rapat pada dadanya.Namun, di tengah atmosfer yang makin memanas dan hampir membakar akal sehatnya, Dewa mendadak tersadar. Iris mata cokelat gelapnya menatap wajah Mentari yang terpejam dengan napas memburu, rona merah panas demam, dan air mata yang meleleh di sudut matanya.'Tidak. Dia sedang dalam kondisi tidak sadar sekarang ini, aku tidak boleh memanfaatkan kelemahannya,' batin Dewa tegas, sekuat tenaga menahan godaan liar di dadanya.Dengan sisa akal sehat yang tersisa, Dewa memegang kedua bahu mungil Mentari secara lembut namun tegas. Ia memutus ciuman itu perla
"Sayang...""Hm?""Pacar kamu yang bodoh itu, beneran mau kasih uangnya besok kan? Aku ingin belanja di mal dan makan enak," tanya si wanita dengan suara mendesah, jarinya mengusap bibir Rian yang basah.Rian terkekeh meremehkan di sela kehangatan tubuh mereka. "Pasti ngasih lah! Cewek polos seperti Mentari itu gampang banget buat dibodohi. Diancam sedikit pakai nama bapaknya, dia pasti sudah gemetaran." Pemuda itu kembali mengecup sang kekasih. "Besok kita pakai uang itu untuk pesta sama belanja."DEG!Bagaikan disambar petir di siang bolong, seluruh ketulusan, rasa kasihan, dan perjuangan Mentari selama ini hancur berkeping-keping menjadi debu. Air mata yang sempat mengering kini meleleh menelusuri pipinya yang masih memar. Pria yang selama ini ia bela, pria yang selama ini ia perjuangkan, ternyata hanya memanfaatkannya, bahkan menertawakan penderitaannya di belakang."R-Rian... ternyata kamu—" Mentari menutup mulutnya. Rasa mual, jijik, dan hancur yang teramat sangat melumpuhkan se
Dewa menaikkan sebelah alisnya. "Meminjam uang? Berapa?"Mentari menahan napasnya sejenak, memejamkan mata rapat sebelum menyebutkan nominal yang menurutnya gila bagi seorang pelayan. "S-sepuluh juta, Pak."Raut wajah Dewa mengeras. Atmosfer di antara mereka mendadak berubah menjadi tegang. "Sepuluh juta?" ulang Dewa dengan nada suara yang merendah dan intimidatif. "Untuk apa uang itu, Mentari? Apa gajimu di sini tidak cukup?""S-saya butuh uang itu untuk suatu hal, Pak." Mentari menelan ludah. Berat rasanya untuk jujur mengenai apa yang sedang ia alami. "Saya sangat membutuhkannya."Dewa tampak diam. Masih belum puas dengan alasan yang Mentari berikan. Namun lagi-lagi dia tidak menyela."Tolong saya, Pak. Saya mohon... B-bapak bisa potong gaji saya tiap bulan sampai utang itu lunas. Saya juga janji akan bekerja dengan lebih rajin nantinya," lanjut Mentari dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Jemarinya menangkup memohon di depan dada.Dewa menatap Mentari dengan lekat. Lalu dengan teg
Matahari merangkak naik memancarkan terik yang membakar kulit. Mentari berada di halaman belakang, menjemur lembaran pakaian dan sprei putih di tali jemuran.Di sela kegiatannya, pikiran gadis itu melayang jauh. Ia merenungkan kerapuhan rumah tangga majikannya yang bergelimang harta namun begitu dingin dan kering akan kasih sayang. Dewa yang gagah dan kaya raya ternyata tidak bahagia, sementara Bu Kania begitu mudah menginjak-injak ketulusan suaminya hanya karena memiliki karier yang cukup cemerlang di dunia keartisan.'Untuk apa harta melimpah kalau rumah tangga cuma isi pertengkaran terus?' batin Mentari pilu. Ia menghela napas panjang, meratapi nasibnya sendiri. Sebagai pelayan miskin di kota besar, hidupnya pun tidak kalah menyedihkan. Ia harus bekerja banting tulang demi mengirimkan uang untuk berobat ayahnya di kampung.Tiba-tiba, suara derak pagar samping memecah lamunan Mentari. Sesosok pria berjaket kulit kusam dan bertubuh tinggi melangkah masuk tanpa rasa bersalah. Itu adal






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.