ANMELDEN(Area Dewasa) Niat Mentari kerja di rumah mewah keluarga Mahendra adalah murni untuk mencari uang demi biaya pengobatan orang tuanya. Tapi sebagai perempuan normal, Mentari juga tidak bisa menolak pesona sang majikan yang begitu luar biasa. Dewangga Mahendra Pratama— tubuhnya tinggi, tegap, dan atletis. Bahu yang lebar, serta dada bidang berotot lengkap dengan paras yang tampan serta tatapan tajam, membuat Mentari nyaris gila setiap berdekatan dengannya. Mentari ingin mengabaikan semua itu dan tetap fokus pada pekerjaannya. Namun karena satu kejadian, semua benteng pertahanan Mentari akhirnya runtuh juga. "Pak Dewa... Sentuh aku! Jadikan aku milikmu," rengek Mentari dengan tatapan sayu tak berdaya. "Kalau kau yang memintanya, aku tidak akan bisa menolak, Mentari," balas Dewa dengan mata berkilat penuh gairah. "Tapi jangan salahkan aku, jika kau mulai ketagihan sentuhanku."
Mehr anzeigenJantung Mentari berdegup liar bagai dihantam palu. Wajahnya seketika memanas. Ia buru-buru mundur dan meringkuk di balik dinding pembatas sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Sayangnya, ia masih bisa menangkap jelas suara basah saat dua tubuh majikannya itu menyatu, lengkap dengan desahan serta erangan yang berat dan intimidatif.
"A-astaga?! Apa yang Pak Dewa dan Bu Kania lakukan di sana? Kenapa mereka harus bercinta di tempat seperti itu?" Gadis itu menempelkan punggungnya pada permukaan dinding marmer yang dingin, berharap rasa dingin itu bisa meredakan kepanikan yang mendidih di balik dadanya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangan yang gemetaran. Maksud hati ingin mengambil segelas air hangat di dapur untuk meredakan rasa hausnya, justru membuatnya terjebak di tengah kemesraan majikannya sendiri di tengah malam yang sunyi. Dari balik celah dinding pembatas, pandangan Mentari tertuju ke arah mereka berdua. Siluet tegap Dewa terlihat begitu mendominasi. Pria berusia 35 tahun itu tampak sangat berkarisma—bahunya lebar dan kokoh, rahangnya terukir tegas, sementara otot-otot dada bidangnya yang bertelanjang tampak menegang penuh aura maskulin yang intimidatif. Sosok majikannya itu memancarkan daya pikat pria dewasa yang berbahaya, tipe pria yang sanggup meruntuhkan pertahanan wanita manapun dalam sekali tatap. "Astaga..." Sensasi asing bercampur ketakutan merayapi sekujur tubuh Mentari. Darahnya berdesir hebat, membuat napasnya tertahan di tenggorokan. Namun, tepat saat gairah di ruang tengah itu berada di puncaknya, sebuah nada dering telepon memecah atmosfer panas tersebut. Drrr... drrr... Irama nyaring itu berdering tanpa kompromi dari ponsel Kania yang tergeletak di atas meja kaca. Di atas sofa, Kania yang sedang berada dalam cengkeraman gairah seketika tersentak kaget. Perhatiannya teralih sepenuhnya pada ponsel di atas meja. Tanpa ragu, Kania tiba-tiba mendorong kuat dada bidang suaminya. "Mas! Sebentar!" katanya sambil mengatur napas. "Ada apa?!" tanya Dewa frustasi, matanya menahan gejolak gairah yang menggantung. "Kita baru mau mulai, Kania." "Sebentar, Mas! Ada telepon," balas Kania sedikit panik. "Tapi Kania, sudah seminggu aku menunggu momen ini!" suara Dewa rendah menahan amarah, napasnya memburu tebal di udara malam. "Aku paham, Mas. Tapi ini telepon penting," balas Kania dengan wajah memelas, berharap suaminya mengalah. "Biarkan saja! Kita selesaikan ini dulu," potong Dewa tegas. "Sudah lama kita tidak bercinta!" Kania menggeleng dan menunjukkan layar ponselnya. "Ini dari Rina. Aku khawatir ada gaun yang tidak sesuai untuk acara besok." "Tapi—" "Sebentar saja. Lima menit, oke?" pangkas Kania acuh. Tanpa memperdulikan suaminya, wanita itu menarik gaun tidurnya ke bawah lalu berjalan ke arah balkon dan menjawab telepon dengan suara sangat tenang, kontras dengan suasananya tadi. "Halo, Rin. Ada apa?" Dewa menyingkir dari sofa dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras tajam, urat-urat di lehernya menonjol tebal. Frustasi dan marah bercampur dengan nafsu yang menggantung membuat fisiknya terlihat amat intimidatif. "Kamu selalu seperti ini! Aku suamimu, aku juga ingin menikmati momen selayaknya suami istri!" protes Dewa, gusar melihat istrinya berjalan menjauh ke balkon. Kania bukannya merasa bersalah, justru melambaikan tangan meminta suaminya diam agar tidak mengganggu percakapannya di telepon. "Ssstt... Mas! Jangan berisik! Aku sedang menerima telepon penting ini!" pangkas Kania dingin sebelum melangkah semakin jauh. "Halo? Iya, Rin? Ada apa?" suara Kania menghilang di balik pintu balkon, menyisakan keheningan yang amat dingin di ruang tengah. Mentari yang masih bersembunyi di balik dinding merasakan atmosfer ruangan mendadak berubah drastis. Matanya terpaku pada sosok Dewa yang kini terdiam mematung di tepi sofa. Pria itu menunduk, mengepalkan jemari tangannya erat-erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tebal. Urat di leher tegapnya menegang hebat, menahan gejolak frustasi yang menggantung di udara. Dewa perlahan mengusap wajah tampannya dengan kasar. Ketika pria itu mendongak menatap langit-langit, Mentari bisa menangkap raut kecewa yang amat mendalam terukir di sana. Tak ada amarah yang meledak-ledak, hanya ada tatapan lelah, terluka, dan hampa dari seorang pria yang baru saja diabaikan dan direndahkan egonya oleh istrinya sendiri di momen paling intim. 'Kasihan Pak Dewa,' batin Mentari terenyuh. Rasa iba yang tak masuk akal mendadak menyusup ke dalam dada Mentari, berpilin dengan kepanikan yang sejak tadi menghimpitnya. Bagaimana mungkin seorang Dewa Mahendra Pratama diperlakukan sedingin itu oleh istrinya sendiri? Pria yang seharusnya dipuja dan di hati justru selalu ditaruh di urutan sekian setelah urusan pekerjaan Kania. 'Ah, sudahlah! Lebih baik aku pergi dari sini sebelum ketahuan,' putus Mentari kemudian. Mentari hendak pergi dari sana, saat tanpa sengaja kakinya menyenggol pot keramik di sudut koridor. Suara gesekan itu memecah keheningan malam. 'Ya Tuhan!' Jantung Mentari seperti berhenti berdetak saat itu juga. "Siapa di sana?!" seru Dewa tajam, matanya menoleh cepat ke arah koridor. Suara beratnya bergema penuh ancaman yang menggetarkan udara. Sensasi horor langsung melingkupi sekujur tubuh Mentari. Dengan segala kepanikan yang mendera, gadis itu memutar tubuh dan melangkah secepat mungkin menuju kamarnya. Jantungnya berdegup kencang, napasnya terengah-engah. Ia langsung merosot lemas di balik pintu kamarnya akibat kejadian barusan. "Ya Tuhan... Jangan sampai Pak Dewa tahu kalau aku yang mengintip," desis Mentari gemetar dengan mata berkaca-kaca. Sementara itu di luar, Dewa bangkit dari sofa. Pria itu hanya melilitkan handuk putih di pinggang tegapnya yang kekar, membiarkan tubuh bagian atasnya yang atletis dan berotot terpapar jelas. Dengan langkah kaki penuh tekanan, Dewa berjalan keluar menuju lorong tempat asal suara tadi. Sorot mata elangnya yang dingin dan tajam meneliti tiap sudut koridor. Pandangannya terhenti tepat pada pot keramik yang tampak sedikit bergeser dari posisi semula, meninggalkan jejak goresan tipis di lantai marmer. Dewa menyipitkan mata. Pandangannya menembus kegelapan lorong yang mengarah langsung ke area kamar pelayan di sudut belakang. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada. Seringai tipis yang dingin, misterius, dan sarat akan intimidasi perlahan terbit di sudut bibirnya. "Ternyata di rumah ini, ada kucing kecil yang suka mengintip.""Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah tangga kalian?"Pertanyaan wartawan itu membuat suasana studio seketika terasa berbeda.Kania terdiam, dia menundukkan wajah dan memainkan ujung jarinya seolah sedang berusaha menahan sesuatu. "Aku sebenarnya agak sedih kalau harus membicarakan hal seperti ini di depan banyak orang," tuturnya lirih.Wartawan wanita tadi langsung menurunkan mikrofonnya sedikit. "Maaf, Bu. Kalau pertanyaannya membuat Anda tidak nyaman, kami tidak perlu melanjutkan," ujarnya hati-hati.Kania buru-buru menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa," jawabnya lembut. "Aku hanya sedikit kaget karena ada pertanyaan mengenai suamiku." Ia menarik napas panjang sebelum kembali mengangkat wajah. "Mas Dewa dan aku baik-baik saja," katanya kemudian."Apa itu benar, Bu?" tanya wartawan pria tadi.Kania mengangguk. "Benar.""Lalu kenapa belakangan ini kalian terlihat semakin jarang bersama?" tanyanya lagi.Kania tersenyum tipis. "Karena kami sama-sama sibuk.""Sesibuk itu?" kejar wartawan
Ruangan dressing room di studio pemotretan itu tampak sibuk sejak pagi. Beberapa staf berlalu-lalang membawa pakaian, perlengkapan make-up, hingga kotak-kotak perhiasan yang akan digunakan dalam sesi pemotretan hari itu. Lampu-lampu lighting menyala terang di sekeliling cermin besar.Kania keluar dari bilik rias dengan langkah anggun. Gaun malam berbahan sutra hitam tanpa lengan membalut tubuh jenjangnya dengan sempurna. Kilauan berlian di leher dan jemarinya semakin mempertegas kesan mewah yang melekat pada dirinya.Dia berhenti di depan cermin, lalu memiringkan wajah ke kanan dan kiri. "Bagaimana?" tanyanya sambil merapikan helaian rambut di dekat telinganya.Evan yang sejak tadi duduk di sofa langsung mengangkat kepala. Pria itu bangkit dan berjalan mendekat."Pantas saja banyak brand yang ingin menjadikan dirimu ambas," pujinya sambil tersenyum tipis. "Kamu terlihat luar biasa."Kania mengangkat sebelah alis. "Cuma luar biasa?" tanyanya dengan nada menggoda.Evan terkekeh pelan. "
Mentari menatap Nilam dengan sorot mata penuh harap. Sejak tadi, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan tentang sikap Dewa yang semakin sulit ia pahami. Perhatian kecil, candaan, cara lelaki itu memandangnya, bahkan kepeduliannya yang terkadang terasa terlalu personal.Semakin dipikirkan, semakin kepalanya terasa penuh. Ia akhirnya memberanikan diri meminta pendapat satu-satunya teman yang menurutnya cukup berani mengatakan sesuatu apa adanya."Katakan, Nilam! Kenapa Pak Dewa seperti itu? Apa itu wajar?" tanya Mentari.Nilam diam sejenak. Tangannya yang semula memainkan sedotan di dalam gelas berhenti bergerak. Raut wajahnya mendadak serius, seolah pertanyaan Mentari bukan sesuatu yang bisa dijawab sambil bercanda."Ada dua jawabannya, Mentari. Pak Dewa tulus pengen ngelindungin kamu karena ada rasa. Atau dia melakukan itu semua karena ada maunya," jawab Nilam serius.Mentari menahan napas. Dadanya terasa sesak mendengar jawaban itu. Bukan karena Nilam mengatakan sesuatu yang baru,
[ “Selama kamu berada di bawah atap kediaman Mahendra, tidak ada satu orang pun di luar sana yang boleh menyentuh atau melukaimu. Paham?”][ “Kamu kerja di rumahku. Itu artinya kamu tanggung jawabku. Kalau ada orang yang berani ganggu kamu, bilang sama aku!”][“Aku tidak peduli kalau ada orang yang lihat. Dan berhenti menyebut dirimu ‘cuma pelayan’ saat kamu berada di pelukanku, Mentari.”][ “Jangan kabur seenaknya, Mentari! Kamu... harus... tanggung jawab!”][ “Siapa yang mengizinkanmu tersenyum dan melayani obrolan pria asing seperti tadi, Mentari? Mulai hari ini, kamu hanya boleh tersenyum manis di hadapanku.”][“Mulai sekarang, jangan pernah anggap semua perhatian yang kuberikan kepadamu hanya sebatas perhatian seorang majikan.”][ “Kalau aku bilang aku menyukai rasa tenteram saat berada di dekatmu... kamu mau percaya, Tari?”]"AAARGHH!" Mentari mengacak rambutnya dengan begitu frustrasi.Sejak kabur dari ruang gym tadi, dia tidak bisa berhenti memikirkan sang majikan. Ucapan tulu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RezensionenMehr