MasukNiat Mentari kerja di rumah mewah keluarga Mahendra adalah murni untuk mencari uang demi biaya pengobatan orang tuanya. Tapi sebagai perempuan normal, Mentari juga tidak bisa menolak pesona sang majikan yang begitu luar biasa. Dewangga Mahendra Pratama— tubuhnya tinggi, tegap, dan atletis. Bahu yang lebar, serta dada bidang berotot lengkap dengan paras yang tampan serta tatapan tajam, membuat Mentari nyaris gila setiap berdekatan dengannya. Mentari ingin mengabaikan semua itu dan tetap fokus pada pekerjaannya. Namun karena satu kejadian, semua benteng pertahanan Mentari akhirnya runtuh juga. Semakin dia menjauh, maka semakin besar keinginan Dewa untuk mendekatinya.
Lihat lebih banyakJantung Mentari berdegup liar bagai dihantam palu. Wajahnya seketika memanas. Ia buru-buru mundur dan meringkuk di balik dinding pembatas sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Sayangnya, ia masih bisa menangkap jelas suara basah saat dua tubuh majikannya itu menyatu, lengkap dengan desahan serta erangan yang berat dan intimidatif.
"A-astaga?! Apa yang Pak Dewa dan Bu Kania lakukan di sana? Kenapa mereka harus bercinta di tempat seperti itu?" Gadis itu menempelkan punggungnya pada permukaan dinding marmer yang dingin, berharap rasa dingin itu bisa meredakan kepanikan yang mendidih di balik dadanya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangan yang gemetaran. Maksud hati ingin mengambil segelas air hangat di dapur untuk meredakan rasa hausnya, justru membuatnya terjebak di tengah kemesraan majikannya sendiri di tengah malam yang sunyi. Dari balik celah dinding pembatas, pandangan Mentari tertuju ke arah mereka berdua. Siluet tegap Dewa terlihat begitu mendominasi. Pria berusia 35 tahun itu tampak sangat berkarisma—bahunya lebar dan kokoh, rahangnya terukir tegas, sementara otot-otot dada bidangnya yang bertelanjang tampak menegang penuh aura maskulin yang intimidatif. Sosok majikannya itu memancarkan daya pikat pria dewasa yang berbahaya, tipe pria yang sanggup meruntuhkan pertahanan wanita manapun dalam sekali tatap. "Astaga..." Sensasi asing bercampur ketakutan merayapi sekujur tubuh Mentari. Darahnya berdesir hebat, membuat napasnya tertahan di tenggorokan. Namun, tepat saat gairah di ruang tengah itu berada di puncaknya, sebuah nada dering telepon memecah atmosfer panas tersebut. Drrr... drrr... Irama nyaring itu berdering tanpa kompromi dari ponsel Kania yang tergeletak di atas meja kaca. Di atas sofa, Kania yang sedang berada dalam cengkeraman gairah seketika tersentak kaget. Perhatiannya teralih sepenuhnya pada ponsel di atas meja. Tanpa ragu, Kania tiba-tiba mendorong kuat dada bidang suaminya. "Mas! Sebentar!" katanya sambil mengatur napas. "Ada apa?!" tanya Dewa frustasi, matanya menahan gejolak gairah yang menggantung. "Kita baru mau mulai, Kania." "Sebentar, Mas! Ada telepon," balas Kania sedikit panik. "Tapi Kania, sudah seminggu aku menunggu momen ini!" suara Dewa rendah menahan amarah, napasnya memburu tebal di udara malam. "Aku paham, Mas. Tapi ini telepon penting," balas Kania dengan wajah memelas, berharap suaminya mengalah. "Biarkan saja! Kita selesaikan ini dulu," potong Dewa tegas. "Sudah lama kita tidak bercinta!" Kania menggeleng dan menunjukkan layar ponselnya. "Ini dari Rina. Aku khawatir ada gaun yang tidak sesuai untuk acara besok." "Tapi—" "Sebentar saja. Lima menit, oke?" pangkas Kania acuh. Tanpa memperdulikan suaminya, wanita itu menarik gaun tidurnya ke bawah lalu berjalan ke arah balkon dan menjawab telepon dengan suara sangat tenang, kontras dengan suasananya tadi. "Halo, Rin. Ada apa?" Dewa menyingkir dari sofa dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras tajam, urat-urat di lehernya menonjol tebal. Frustasi dan marah bercampur dengan nafsu yang menggantung membuat fisiknya terlihat amat intimidatif. "Kamu selalu seperti ini! Aku suamimu, aku juga ingin menikmati momen selayaknya suami istri!" protes Dewa, gusar melihat istrinya berjalan menjauh ke balkon. Kania bukannya merasa bersalah, justru melambaikan tangan meminta suaminya diam agar tidak mengganggu percakapannya di telepon. "Ssstt... Mas! Jangan berisik! Aku sedang menerima telepon penting ini!" pangkas Kania dingin sebelum melangkah semakin jauh. "Halo? Iya, Rin? Ada apa?" suara Kania menghilang di balik pintu balkon, menyisakan keheningan yang amat dingin di ruang tengah. Mentari yang masih bersembunyi di balik dinding merasakan atmosfer ruangan mendadak berubah drastis. Matanya terpaku pada sosok Dewa yang kini terdiam mematung di tepi sofa. Pria itu menunduk, mengepalkan jemari tangannya erat-erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol tebal. Urat di leher tegapnya menegang hebat, menahan gejolak frustasi yang menggantung di udara. Dewa perlahan mengusap wajah tampannya dengan kasar. Ketika pria itu mendongak menatap langit-langit, Mentari bisa menangkap raut kecewa yang amat mendalam terukir di sana. Tak ada amarah yang meledak-ledak, hanya ada tatapan lelah, terluka, dan hampa dari seorang pria yang baru saja diabaikan dan direndahkan egonya oleh istrinya sendiri di momen paling intim. 'Kasihan Pak Dewa,' batin Mentari terenyuh. Rasa iba yang tak masuk akal mendadak menyusup ke dalam dada Mentari, berpilin dengan kepanikan yang sejak tadi menghimpitnya. Bagaimana mungkin seorang Dewa Mahendra Pratama diperlakukan sedingin itu oleh istrinya sendiri? Pria yang seharusnya dipuja dan di hati justru selalu ditaruh di urutan sekian setelah urusan pekerjaan Kania. 'Ah, sudahlah! Lebih baik aku pergi dari sini sebelum ketahuan,' putus Mentari kemudian. Mentari hendak pergi dari sana, saat tanpa sengaja kakinya menyenggol pot keramik di sudut koridor. Suara gesekan itu memecah keheningan malam. 'Ya Tuhan!' Jantung Mentari seperti berhenti berdetak saat itu juga. "Siapa di sana?!" seru Dewa tajam, matanya menoleh cepat ke arah koridor. Suara beratnya bergema penuh ancaman yang menggetarkan udara. Sensasi horor langsung melingkupi sekujur tubuh Mentari. Dengan segala kepanikan yang mendera, gadis itu memutar tubuh dan melangkah secepat mungkin menuju kamarnya. Jantungnya berdegup kencang, napasnya terengah-engah. Ia langsung merosot lemas di balik pintu kamarnya akibat kejadian barusan. "Ya Tuhan... Jangan sampai Pak Dewa tahu kalau aku yang mengintip," desis Mentari gemetar dengan mata berkaca-kaca. Sementara itu di luar, Dewa bangkit dari sofa. Pria itu hanya melilitkan handuk putih di pinggang tegapnya yang kekar, membiarkan tubuh bagian atasnya yang atletis dan berotot terpapar jelas. Dengan langkah kaki penuh tekanan, Dewa berjalan keluar menuju lorong tempat asal suara tadi. Sorot mata elangnya yang dingin dan tajam meneliti tiap sudut koridor. Pandangannya terhenti tepat pada pot keramik yang tampak sedikit bergeser dari posisi semula, meninggalkan jejak goresan tipis di lantai marmer. Dewa menyipitkan mata. Pandangannya menembus kegelapan lorong yang mengarah langsung ke area kamar pelayan di sudut belakang. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada. Seringai tipis yang dingin, misterius, dan sarat akan intimidasi perlahan terbit di sudut bibirnya. "Ternyata di rumah ini, ada kucing kecil yang suka mengintip."Mentari tersenyum simpul, jemarinya memainkan tali tas. "Bapak di mana?" "Di kantor. Tapi kalau kamu mau, aku bisa menjemput sekarang." "Enggak usah, Pak. Jarak kampus ke kantor kan lumayan lama. Belom nanti macetnya. Keburu ilang laparnya," balas Mentari santai. Dewa tertawa kecil dari seberang telepon, suara yang selalu berhasil membuat debar jantung Mentari sedikit berantakan. "Kamu bener juga." Mentari memainkan ujung rambutnya yang tergerai angin. "Gimana nanti kalau kita makan malam berdua di rumah. Saya yang masak deh." "Hhm, ide bagus. Mungkin aku tiba di rumah jam 6 malam," tanggap Dewa antusias. "Oke. Saya akan tunggu bapak pulang. Nanti saya masakin makanan yang enak khusus buat bapak." "Aku nggak sabar nunggu jam 6 sore." "Enggak sabar makan masakan saya ya, Pak?" seloroh Mentari menggoda. "Nggak sabar ketemu kamu lah," balas Dewa tanpa ragu. "Bapak iiih..." Mentari langsung merona, pipinya memanas. Malu berat karena Dewa terang-terangan menggodanya di
Raisa tidak bisa tidur semalaman. Pesan terakhir yang diterimanya terus berkelebat liar di kepala. Orang yang selama ini membantunya mengelola akun anonim ternyata mulai ketakutan dan berniat membuka semuanya. Di dalam kamar yang temaram, Raisa sudah berulang kali menghubungi nomor tersebut, tetapi tidak satu pun panggilannya dijawab. "Cepat angkat, dasar sialan!" gerutunya sambil kembali menekan tombol panggilan dengan jemari yang sedikit bergetar. Namun, hasilnya tetap sama. Nomor itu tidak aktif. Frustrasi, Raisa melempar ponselnya begitu saja ke atas kasur empuknya. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar dengan raut wajah yang semakin tegang, menggigiti kuku ibu jarinya. 'Kalau orang itu sampai membocorkan keterlibatanku, semuanya akan berakhir.' Bukan hanya reputasinya yang terancam runtuh, tetapi juga posisinya di lingkungan kampus. Ia bisa mendapatkan sanksi berat, bahkan mungkin dikeluarkan dari universitas jika terbukti melakukan perundungan dan pencemaran nama baik.
Reno meletakkan sebuah map hitam di atas meja kerja Dewa. Pria itu kemudian duduk di sofa sambil memperhatikan atasannya yang sedang membaca beberapa lembar dokumen."Jadi, ini hasil penyelidikan sementara?" tanya Dewa."Benar, Pak. Kami menemukan beberapa petunjuk yang mengarah kepada Raisa."Dewa mengangkat wajah. "Jelaskan padaku."Reno membuka laptopnya, lalu menampilkan beberapa tangkapan layar. "Pertama, akun anonim yang menyebarkan rumor tentang Mentari beberapa kali mengakses jaringan internet di sekitar kampus. Kami memang belum bisa memastikan siapa penggunanya, tetapi ada satu hal menarik.""Apa?""Beberapa foto yang diunggah akun tersebut diambil dari lokasi yang sama dengan tempat Raisa berada pada hari kejadian."Dewa menyandarkan punggungnya. "Seberapa kuat buktinya?""Belum cukup untuk menyimpulkan bahwa dia pelakunya. Tapi kami menemukan hubungan antara akun tersebut dan salah satu alamat surel yang pernah digunakan untuk mendaftar sebuah layanan digital. Alamat itu t
Raisa duduk di hadapan dua orang perwakilan kemahasiswaan dengan wajah yang berusaha terlihat tenang. Di sampingnya terdapat seorang staf kampus yang sejak tadi mencatat setiap jawaban. "Kami ingin meminta klarifikasi mengenai beberapa unggahan anonim yang berisi tuduhan terhadap salah satu mahasiswa," ujar seorang perempuan berkacamata di hadapannya. Raisa mengangguk kecil. "Baik, Bu. Tapi saya kurang paham kenapa saya dipanggil." "Kami belum menuduh siapa pun. Kami hanya ingin mengumpulkan keterangan." "Oh, begitu." Perempuan itu membuka sebuah map. "Kami menerima laporan bahwa beberapa mahasiswa mengetahui adanya pihak yang sengaja mengambil foto Mentari dan Arkan, kemudian menyebarkannya dengan narasi yang merugikan." Raisa berusaha mempertahankan ekspresi wajahnya. "Saya juga sempat melihat unggahan itu, Bu. Tapi saya tidak tahu siapa yang membuatnya." "Apakah kamu mengenal Mentari?" "Tentu. Kami cukup sering berbicara." Jawaban itu terdengar lancar. Terlalu lancar, seola
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak