Sudah lima belas menit Jogja diguyur hujan deras. Chandani duduk di kursi dapur sambil melihat hujan dari jendela. Saat ini jantungnya berdebar kencang, karena Duna sebentar lagi akan datang. Sebenarnya dia ingin kabur saat ini juga. Tapi dia menahan diri. Menghindar dari Duna tidak akan membuat rasa bencinya menghilang. Jadi Chandani memilih untuk melawan rasa sedih, benci, dan putus asanya. Cahya berjalan menuju dapur. “Chan, mau kamu atau aku aja yang terapi Duna?”Chandani segera berdiri. “Aku saja, Ya.”“Serius?”“Iya serius.”Meski tidak banyak berbicara, Chandani tetap melakukan tugasnya dengan profesional. Percakapan mereka hanya sebatas fisioterapis dan pasien. Tidak ada percakapan tentang masa lalu. Setiap kali Duna memberikan pertanyaan yang menjerumus ke kehidupan pribadinya, Chandani memilih diam. Lalu Chandani mengalihkan pandangannya dari Duna. Kedua matanya tidak ingin saling beradu tatap dengan mantan kekasihnya. Hatinya masih belum siap. “Rambut kamu pendek? Dulu,
Last Updated : 2026-07-21 Read more