Seharusnya, setelah rentetan kalimat kejam yang dilontarkan Mama tadi, aku tidak boleh memimpikan Javier lagi. Hati dan logikaku harusnya tahu diri. Namun ternyata aku salah. Mimpi itu tetap datang tanpa bisa dicegah, fantasi liar itu masih saja hadir menyergap tidur pagiku, sama persis seperti sebelum-sebelumnya.“Ah, Javier … aku merindukan sentuhanmu,” rintihku dalam keheningan dunia mimpi.“Aku juga, Camila. Hanya kamu satu-satunya wanita yang ingin aku sentuh,” balas Javier, suaranya terdengar begitu berat dan memabukkan yang membuatku semakin bergairah.“Hm, sentuhlah aku sesuka hatimu. Sentuh aku seperti apa yang kamu inginkan, Javier.”Javier menyunggingkan senyum tipis yang menawan. Ia lalu mendorong tubuhku dengan pelan ke atas ranjang, mencondongkan badannya hingga tidak ada jarak lagi di antara kami. Detik berikutnya, ia mulai menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman yang begitu lembut namun sarat ak
Terakhir Diperbarui : 2026-07-14 Baca selengkapnya