LOGINPagi itu, Adriana sudah datang dan bergabung di meja makan bersama keluarga besar Villarreal.
Aku melirik sekilas ke bawah meja. Kakinya masih terbalut perban putih yang rapi, padahal aku tahu jelas bahwa di balik kain kasa itu sama sekali tidak ada luka apa pun. Semuanya hanya sandiwara.
“Camila, hari ini kamu temani Adriana lagi,” ujar Mama tiba-tiba setelah aku sampai, nadanya terdengar dingin dan tak bisa di
POV AuthorSuara tangis anak kecil membuat perempuan yang masih terbungkus selimut itu langsung terbangun dengan wajah berselimut amarah. Tidurnya terganggu saat anak itu menangis memanggil namanya.“Kenapa kamu tidak diam, hah?!”“Maaf … aku lapar, Ibu,” cicit anak itu ketakutan.“Bisa makan, kenapa kamu malah menangis?!”“Tidak ada makanan, Ibu …”Adriana. Ya, dialah Adriana—perempuan yang nekat melahirkan anaknya tanpa memiliki seorang suami. Namun bukannya memberikan kasih sayang, Adriana justru membuat anak itu menderita. Bahkan fisik anak itu tampak tidak seperti anak-anak seusianya. Tubuhnya sangat kurus dengan sepasang mata yang menguning, mirip seperti anak yang mengidap penyakit serius.Adriana melangkah kasar, lalu mengambil sepotong roti yang mungkin saja sudah kedaluwarsa, lantas melemparkannya pada sang anak.“Ini, makan!”Anak itu menerimanya dengan perasaan gembira. Kalau saja ia bisa memilih, mungkin ia tidak akan pernah mau dilahirkan dari ibu seperti Adriana—seseora
Tanganku mengepal kuat mendengar itu. Bagaimana bisa orang yang tidak saling mengenal berbicara seperti itu? Lagipula, aku mengenakan pakaian sopan, tidak terbuka seperti perempuan yang berniat menjual diri.“Bercanda, Cantik. Jangan marah, ya.”Aku memilih tetap diam, tak memperdulikan pria itu. Aku lebih memilih menatap ke depan, menunggu pintu lift segera terbuka. Akan tetapi, aku merasa pintu lift itu tidak bergerak sama sekali.Atau hanya perasaanku saja?“Namaku Arlo. Nama kamu siapa?” tanyanya lagi, mencoba kembali bicara denganku.Aku masih membisu. Kalau saja memukul mulut orang tidak ada hukumnya, mungkin saat ini juga sudah kulakukan. Mengingat pria ini terlalu banyak bicara.Beruntung pintu lift terbuka, dan aku segera berlari masuk. Tapi sepertinya keputusanku ini salah. Saat aku masuk, pria bernama Arlo itu pun ikut masuk.Sekarang, di dalam lift hanya ada kami berdua. Terlebih pintu lift sudah tertutup rapat, dan aku tidak bisa keluar begitu saja.Aku ingin sekali menek
“Javier, sudah! Nanti Nicolas mencari kita,” protesku saat Javier enggan melepaskan tubuhku.Aku tidak tahu sudah berapa lama kami berada di kamar hotel ini. Mungkin sudah dua jam, tiga jam, atau bahkan lebih.Sebab kami tidak hanya melakukannya satu kali. Dan permainan kami kali ini sungguh luar biasa gila.Javier mengajariku banyak sekali posisi—mulai dari posisi 69, lalu berpindah ke sofa, hingga melanjutkannya di kamar mandi. Banyak sekali yang telah kami lakukan.Seakan-akan sekali saja tidak pernah cukup baginya.Dan aku sungguh cemas jika Nicolas mendadak rewel mencariku.“Tenang saja, dia aman bersama Nenek dan Kakeknya,” jawabnya santai seraya tangannya masih setia mengelus dadaku yang kembali mengeras.Tubuhku sebenarnya sudah teramat lelah. Namun, setiap kali Javier menyentuhku dan memberikan rangsangan, tubuhku seolah otomatis kembali bereaksi.“Tapi aku takut … kalau dia menangis bagaimana?”Javier akhirnya menghentikan kegiatannya sejenak. Ia meraih ponselnya di atas nak
Aku menelan cairan itu sampai habis, lalu menatap Javier yang lemas dengan napas terengah-engah. Dia tersenyum ke arahku, seakan puas dengan apa yang baru saja kulakukan padanya.“Ternyata kamu nakal sekali, hm?” katanya pelan.“Hm, aku akan nakal hanya denganku. Dan aku akan kembali nakal sekarang,” jawabku seraya mengedipkan mata menggoda.Aku turun dari ranjang, melepaskan gaunku dengan cepat, meninggalkan semuanya hingga tidak ada sehelai benang pun yang tersisa di tubuhku.“Lepaskan tanganku, aku akan balas dendam,” katanya.“Oh, tidak. Aku tidak akan melakukan itu, karena ini belum selesai,” jawabku dengan senyum nakal.Aku langsung naik kembali ke atas ranjang. Tepat di depan wajahnya, aku berbisik, lalu memposisikan vaginaku tepat di depan wajahnya.“Apa kamu mau ini?”“Camila, lepaskan tanganku … aku ingin sekali menyentuhmu …”Aku tersenyum nakal, kepalaku menggeleng pelan. “Belum saatnya, Sayang,” bisikku seraya bergerak bangkit.Namun, saat aku hendak bangkit, Javier ikut
Javier mendorong tubuhku ke ranjang kamar hotel, namun aku dengan cepat balik memutar posisi di atas tubuhnya.Kali ini, aku tidak akan tinggal diam. Aku juga ingin membuatnya kesakitan karena nikmat.“Sayang, kamu …”Aku tidak membiarkannya melanjutkan ucapannya. Aku yang sudah berada di atas tubuhnya langsung membungkam bibirnya dengan ciuman yang begitu memburu.Kali ini aku ingin memegang kendali, dan kalau bisa, aku juga akan sedikit bermain kasar.“Apakah kali ini aku bisa mengambil kendali?” bisikku tepat di daun telinganya.Javier tidak menjawab, matanya sudah berganti gelap oleh kabut gairah. Lalu kepalanya mengangguk kecil. “Lakukan … lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Sayang …”Aku tersenyum nakal. Lalu dengan hati-hati mulai melepaskan satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya. Setelah semua berhasil terlepas dan hanya menyisakan celana pendek, aku kembali naik ke atas tubuhnya.Aku menjilati seluruh tubuh Javier.Kepalanya mendongak saat aku mulai memberikan ciuman
“Mana menantu dan cucuku?”Aku terkejut mendengar suara berat namun hangat itu, terlebih saat bibirnya membentuk senyum lebar ke arahku.“Kakek merindukanmu. Apa kabarmu, Camila?”Dengan ragu aku mulai membuka suara, karena tidak menyangka kalau reaksinya akan begitu. “Aku … kabarku baik, Kek.”Senyum di bibirnya tidak luntur. Kakek melangkah mendekat, lalu menepuk pundakku beberapa kali dengan penuh kasih sayang.“Padahal kamu masih hidup, dan saat itu kamu sedang mengandung anak Javier … kenapa kamu memilih tidak pulang? Kenapa kamu justru harus hidup menderita sendirian, Nak? Kamu pasti menderita sekali.” Aku terdiam, memilih menatap Javier yang masih setia menggendong Nicolas.“Sudah, jangan dibahas lagi, Kek. Sekarang kita sudah berkumpul kembali. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita akan memulai hidup baru, dan aku akan menebus semua penderitaan yang telah mereka alami selama ini,” sela Javier tegas menenangkan.Kakek mengangguk setuju. “Bagus! Lakukan itu, kamu harus memba







