เข้าสู่ระบบAku masih diam di tempat. Tidak sedikit pun terlintas di benakku untuk menuruti perintah gila Adriana yang menyuruhku membersihkan sepatunya.
Namun, tiba-tiba tubuhku terdorong keras ke depan hingga hampir tersungkur ke lantai. Aku menoleh dengan kilatan amarah, menatap tajam ke arah asisten pribadi Adriana yang baru saja mendorong bahuku dengan kasar atas perintah majikannya.
“Aaa!”
Aku menjerit kesakitan saat ujung t
“Wah, Ibu masakannya banyak sekali!” Nicolas berseru gembira melihat jajaran hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja makan.“Iya, apalagi tadi Rosa datang dan kasih Ibu daging segar, jadi Ibu memasak lebih banyak menu,” jawabku lembut. Aku lalu mengambil sebuah mangkuk, mengisinya dengan sup daging hangat beserta sayur-sayuran segar. Aku meletakkannya tepat di hadapan Nicolas. “Makan yang banyak, ya? Setelah ini, antarkan juga sup dagingnya ke rumah Rosa agar ia bisa makan siang.”“Siap, Ibu!”Senyum di bibirku melengkung manis. Aku mengelus lembut rambut Nicolas sejenak, lalu kembali mengambil mangkuk lain dan mengisinya seperti sebelumnya. Setelah terisi penuh, aku meletakkannya di depan Javier.“Selamat makan …”“Terima kasih, Sayang.”Mataku seketika membelalak lebar. Jantungku berdegup kencang karena masih merasa amat gugup tiap kali mendengar panggilan manja itu dari bibirnya—terlebih saat ada Nicolas di antara kami!Dan benar saja, lihatlah anak kecil itu justru tertawa
!POV Camila: Aku memasak untuk makan siang ini dengan penuh semangat. Tidak tahu mengapa, hatiku merasa teramat bahagia. Apakah karena akhirnya aku bisa kembali bersatu dengan Javier? Atau karena melihat senyuman yang tak pernah lepas dari bibir mungil Nicolas?Aku tidak tahu pasti.Aku hanya terus berdoa kepada Tuhan, semoga semua kebahagiaan ini bukanlah sekadar mimpi semata. Aku hanya takut jika pada akhirnya Nicolas harus kembali merasakan kekecewaan.Aku menoleh saat mendengar langkah kaki seseorang masuk ke rumah. Dan benar saja, itu adalah Rosa. Wanita paruh baya yang teramat baik padaku itu tersenyum hangat seraya membawa sebuah kantong plastik di tangannya.“Itu apa, Rosa?” tanyaku seraya melangkah mendekat untuk menerima barang bawaannya.“Daging. Kamu bisa memasaknya menjadi sup atau menu apapun, terserah kamu,” jawabnya dengan senyum tipis.“Rosa, kenapa kamu berikan padaku? Ini kan bahan-bahan untuk kamu jual di rumah makan?” kataku masih tidak percaya, mengamati kanton
Kepala Nicolas mengangguk dengan sangat yakin. “Iya, Ayah … tapi Ibu menolaknya. Dokter Dani saja ditolak!”Aku menghembuskan napas lega. Awas saja kamu, Pak Walikota! Sudah tua bangka, masih mau menambah istri saja!Aku menoleh ke depan saat menyadari Alex sepertinya sedang menahan tawa lewat kaca spion.“Kenapa, Alex?” tanyaku langsung, menatapnya tajam tak suka.“Tidak ada apa-apa, Tuan. Saya hanya tidak menyangka Tuan bisa menjadi seperti ini sekarang,” jelanya jujur.Aku menautkan alis bingung. “Maksudmu apa?”“Tadi wajah Tuan terlihat sangat bahagia saat mau berangkat, lalu sekarang mendadak berubah kesal hanya karena mendengar kabar itu. Saya tidak pernah melihat Tuan se-manusiawi ini. Saya turut bahagia melihat perubahan Tuan,” katanya tulus.Sudut bibirku otomatis melengkung ke atas. Apa yang dikatakan Alex memang benar. Lima tahun belakangan ini
.Aku melangkah keluar seraya menggandeng jemari mungil Nicolas. Di luar, Alex sudah menungguku di dekat mobil. Bahkan, tadi ia sempat membawakan beberapa pakaian ganti yang kubutuhkan. Tidak mungkin aku menghadiri pertemuan dengan orang-orang penting di kota ini menggunakan pakaian yang sama seperti semalam.“Kamu serius tidak mau ikut?” tanyaku sekali lagi pada Camila, tepat sebelum Alex membukakan pintu mobil untuk kami.Camila menggeleng pelan. “Tidak. Aku di rumah saja, aku mau membantu Rosa. Kalian pulanglah saat makan siang nanti.”Hatiku menghangat mendengarnya. Aku tentu langsung menganggukkan kepala dengan sangat cepat. Pulang untuk makan siang bersama di rumah … aku tidak akan melewatkan kesempatan manis itu. Dan sepertinya, kegiatan makan bersama akan menjadi kegiatan yang wajib aku lakukan sekarang.“Hati-hati. Jangan terlalu lelah, ya? Kamu tidak perlu bekerja lagi, Camila, karena sekarang sudah ad
POV Javier“Aku tidak butuh wanita-wanita itu, Mama,” kataku tegas seraya terus menatap lurus ke arah Camila yang membisu, mendengarkanku berbicara di telepon.“Mama tidak setuju dengan ide kamu, Javier! Mama ingin kamu punya keturunan dari pernikahan sah, bukan dengan cara rumit yang kamu beritahukan waktu itu. Di keluarga kita, tidak ada sejarahnya punya anak dengan cara seperti itu!” cecar suara Mama di balik layar.Aku menghembuskan napas panjang mendengar penuturan Mama. “Mama dengarkan aku baik-baik. Aku akan segera pulang setelah semua urusanku di sini selesai. Ingat, aku tidak akan pulang sendirian. Aku akan membawa seseorang bersamaku, jadi Mama tidak perlu memikirkan soal perjodohan itu lagi,” tegasku menenangkan.“Benarkah?! Apakah kamu menemukan wanita yang kamu cintai di kota S?” tanya Mama, seketika berubah antusias.“Hm. Aku sangat mencint
POV CamilaSial! Aku refleks menarik kerah bajuku untuk menutupi leher. Aku benar-benar melupakan hal ini! Sialan, ini pasti tanda yang dibuat Javier semalam!Aku melirik Javier yang berdiri mematung di belakang Nicolas. Bukannya merasa bersalah setelah meninggalkan jejak kepemilikan yang pasti akan membuat Nicolas bertanya-tanya, pria itu justru menyunggingkan senyum nakal nan menggoda.Sungguh menyebalkan!“Emm … bukan, Sayang. Ini karena digigit nyamuk. Iya, karena digigit nyamuk makanya jadi seperti ini,” jawabku beralasan seadanya, berharap Nicolas akan langsung percaya.Namun, anak berusia empat tahun itu tampaknya terlalu pintar untuk dibodohi. Ia menatap tubuhnya sendiri, beralih menatapku lagi, lalu secara bergantian menatap kerah kemeja ayahnya. Tindakannya tentu saja membuatku bingung sekaligus makin panik.“Kenapa nyamuknya cuma menggigit di leher Ibu? Kenapa Nico dan Ayah tida







