Keesokan paginya, sinar matahari pegunungan yang memantul dari hamparan salju menembus celah tirai, menyinari kamar utama dengan intensitas cahaya yang menyilaukan dan menyakitkan mata. Al tersentak bangun dengan napas memburu. Kepalanya terasa seolah-olah baru saja dihantam godam besi berulang kali. Ingatan tentang malam jahanam itu tidak datang secara perlahan, melainkan menghantam pusat kesadarannya seketika bak gelombang tsunami. Kepingan-kepingan visual yang kabur, sentuhan yang salah, dan erangan penuh kepalsuan merobek-robek batinnya hingga merasa sesak napas. Dia terduduk kaku di tengah ranjang yang berantakan. Kamar itu kosong, Elena tidak ada di sampingnya. Al menunduk, menatap kedua tangannya sendiri yang kini bergetar hebat. Rasa jijik, muak, dan kebencian pada diri sendiri meluap tanpa bisa dibendung, memicu rasa mual yang mengocok isi perutnya. Dia langsung melompat turun dari ranjang, terhuyung-huyung melangkah menuju kamar mandi berlapis marmer hitam. Dia menyala
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-18 อ่านเพิ่มเติม