Al berjalan mendekat, menarik kursi di samping ranjang, dan duduk di sana. Ia meraih tangan Reva yang bebas dari selang infus, menggenggamnya erat dengan kedua tangan, dan menempelkan ke bibirnya. Ia mencium punggung tangan itu berkali-kali, membiarkan air mata penyesalannya membasahi kulit pucat Reva. "Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku, Reva," isaknya pelan di dalam keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara ritmis dari monitor jantung. "Aku pria brengsek. Aku menghancurkanmu demi ketakutanku sendiri. Tolong, bangunlah. Pukul aku, bunuh aku jika kau mau, tapi jangan tinggalkan aku." Malam pun berganti pagi. Sinar mentari mulai menembus tirai jendela kamar rumah sakit. Perlahan-lahan, jemari di dalam genggaman Al bergerak lemah. Al mendongak seketika, matanya yang merah dan bengkak karena tidak tidur semalaman menatap penuh harap ke arah wajah Reva. Kelopak mata wanita itu bergetar, lalu perlahan membuka. Mata cokelat terang itu mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-23 อ่านเพิ่มเติม