تسجيل الدخولAldebaran Kusuma, pewaris tunggal Kusuma Group, terjebak dalam pernikahan bisnis demi menjaga stabilitas perusahaan dengan Elena Salsabila Pranoto. Namun, hatinya hanya milik Revalina, gadis cerdas dari keluarga sederhana yang ia pacari sejak masa kuliah. Tak sanggup kehilangan, Aldebaran memaksa Revalina menikah siri secara diam-diam. Saat pernikahan siri itu terendus publik, Revalina dicap sebagai pelakor, sementara Elena yang manipulatif memegang kendali opini publik. Di tengah intrik, ancaman, dan kehamilan yang hampir bersamaan, Revalina harus memilih: bertahan di dalam sangkar emas yang menyiksa, atau menghilang untuk melindungi dirinya dan masa depan anaknya.
عرض المزيدSore itu, langit di atas kampus dipenuhi sapuan warna jingga yang hangat. Angin berembus pelan, menyibakkan beberapa helai rambut Revalina yang sengaja diikat asal-asalan. Gadis itu duduk bersila di bawah pohon rindang dekat fakultasnya. Matanya tak lepas dari layar laptop yang menyala. Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard, mengetik deretan kalimat untuk bab empat skripsinya.
Di depannya, Aldebaran Kusuma—pewaris tunggal Kusuma Group yang namanya selalu diagungkan di koridor kampus—justru mengabaikan setumpuk jurnal di pangkuannya. Pemuda itu menopang dagu dengan satu tangan, menatap Reva dengan senyum tipis yang tak kunjung pudar. Bagi Al, melihat Reva mengerutkan kening karena pusing memikirkan skripsi jauh lebih menarik daripada membedah laporan keuangan perusahaan ayahnya. "Kamu mau terus-terusan ngeliatin aku kayak gitu, Al?" tegur Reva tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Skripsi kamu nggak akan beres kalau kamu cuma senyum-senyum sendiri." Al tertawa pelan, suara baritonnya terdengar sangat renyah. "Skripsiku udah di-acc dosen pembimbing dua hari yang lalu, Yang. Kamu lupa, ya?" Reva mendengkus pelan. Ia akhirnya menatap laki-laki di hadapannya. "Oh iya, Tuan Muda Kusuma yang otaknya encer. Lupa aku kalau pacarku ini serba bisa." "Bukan serba bisa," sahut Al sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu menyelipkan sehelai rambut Reva ke belakang telinganya. "Aku cuma mau cepat lulus, biar bisa cepat nikahin kamu." Pipi Reva merona seketika. Meskipun mereka sudah berpacaran hampir tiga tahun sejak awal masuk kuliah, gombalan Al selalu sukses membuat perutnya dipenuhi kepakan sayap kupu-kupu. Reva memukul lengan Al pelan dengan buku catatannya. "Ngawur. Lulus aja belum, udah ngomongin nikah. Lagian, masa pewaris Kusuma Group nikahnya sama cewek miskin kayak aku? Nanti papa kamu bisa jantungan, Al," ucap Reva setengah bercanda, meski ada kilat keraguan di matanya. Mendengar nama ayahnya disebut, senyum di bibir Al sedikit memudar. Namun, ia buru-buru menutupinya. Tangannya terulur, menggenggam tangan Reva yang berada di atas pangkuan, lalu mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya. "Aku nggak peduli sama apa kata Papa, Reva. Hidupku selama dua puluh dua tahun ini udah cukup diatur-atur sama beliau. Masuk jurusan bisnis, berteman sama anak-anak kolega bisnisnya, sampai datang ke acara-acara elit yang isinya cuma orang-orang palsu yang suka menjilat. Papa bilang semuanya demi Kusuma Group," ucap Al, suaranya berubah sedikit lebih berat. "Tapi kamu? Kamu itu duniaku yang asli, Reva. Cuma sama kamu aku ngerasa jadi Aldebaran, bukan aset perusahaan." Hati Reva mencelos mendengar pengakuan itu. Ia tahu betul bagaimana tersiksanya Al di balik semua kemewahan yang melekat padanya. Di balik setelan bermerek dan mobil mewah yang selalu mengantar, Al sering kali bercerita betapa sepinya rumah bak istana yang ia tinggali. Reva membalas genggaman tangan Al dengan lebih erat. "Aku di sini, Al. Aku bakal terus nemenin kamu. Tapi kamu juga harus janji, selesaikan tanggung jawab kamu dulu di kampus. Oke?" Al tersenyum lebar, kelegaan terpancar jelas di wajahnya yang tampan. "Siap, Bos. Sekarang, karena kamu udah ngetik tanpa henti selama tiga jam, gimana kalau kita makan? Aku lapar." "Mau makan di mana?" tanya Reva sambil mulai mematikan laptop dan memasukkan ke dalam tas ransel lusuhnya. "Kamu jangan ngajak makan di restoran mahal lagi, ya? Uang beasiswaku belum turun. Aku nggak bisa patungan." "Astaga, siapa yang minta kamu patungan, Yang?" tanya Al sambil menggelengkan kepala karena tak habis pikir. "Aku pacar kamu, Reva. Masa aku biarin kamu ikutan bayar?" "Aku nggak mau kebiasaan dibayarin, Aldebaran. Nanti aku dikira cewek matre yang manfaatin kekayaan kamu." "Yang berani ngomong gitu, aku beli mulutnya!" sungut Al dengan nada posesif yang selalu menjadi ciri khasnya jika menyangkut Reva. "Udah, kita makan pecel lele di pertigaan gang kosan kamu aja, gimana? Udah lama, kan, aku nggak makan sambel terasinya Cak Jo?" Mata Reva berbinar. "Serius? Kamu mau makan di pinggir jalan? Nanti perut kamu sakit lagi kayak bulan lalu." "Itu, kan, karena aku pesen yang level dewa pedesnya," elak Al sambil berdiri, lalu mengambil alih tas ransel Reva dan menyampirkan di bahu kirinya. "Udah, ayo! Keburu ramai nanti kita nggak dapat tempat duduk." Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor kampus yang mulai sepi. Al sengaja memarkirkan mobil sport keluaran terbarunya agak jauh agar tidak terlalu menarik perhatian. Meskipun pada akhirnya, sosok Al yang jangkung dan tampan, berjalan bersisian dengan Reva yang sederhana, tetap saja mengundang tatapan dari beberapa mahasiswa yang lewat. Reva terkadang merasa risi, tetapi genggaman tangan Al yang erat seolah-olah menjadi penangkal dari segala rasa rendah diri. Sesampainya di warung tenda pecel lele Cak Jo, suasana sudah lumayan ramai. Aroma lele goreng dan sambal tomat menguar tajam menggugah selera. Al dengan kemeja kasualnya yang jelas bernilai jutaan rupiah, sama sekali tidak canggung duduk di atas kursi plastik merah yang sedikit goyang. Ia mengambil tisu di atas meja, lalu membersihkan meja di depan Reva dengan telaten. "Cak, pecel lelenya dua! Sambelnya yang satu sedang, yang satu nggak pedes sama sekali!" teriak Al memesan makanan. Cak Jo yang sedang membalik gorengan menoleh sambil tersenyum semringah. "Siap, Mas Al! Tumben baru mampir lagi. Sibuk skripsi, tah?" "Iya, Cak. Ini nemenin Nyonya Besar ngejar deadline," sahut Al santai hingga sukses membuat wajah Reva bersemu merah. "Kamu, tuh, kebiasaan banget manggil gitu di depan orang," bisik Reva sambil mencubit pelan pinggang Al. Al menggeliat sambil terkekeh, lalu meraih gelas es teh manis yang baru saja diantarkan oleh pegawai warung. Ia menyodorkan salah satunya kepada Reva. "Biarin aja. Hitung-hitung latihan buat masa depan." Sambil menunggu makanan datang, Reva menatap lekat wajah laki-laki di depannya. Ada garis kelelahan di bawah mata Al, kemungkinan besar karena begadang mengurus beberapa dokumen perusahaan yang mulai dilimpahkan oleh ayahnya. Reva menghela napas pelan. "Al, setelah lulus nanti kamu bakal langsung diangkat jadi direktur?" tanya Reva hati-hati. Al menghentikan kegiatannya mengaduk es teh, lalu menatap Reva dengan pandangan serius. "Kemungkinan besar iya. Papa udah mulai menekan aku untuk masuk jajaran direksi bulan depan. Makanya aku ngebut ngerjain skripsi biar urusan kampus cepat selesai." "Terus ... kita gimana?" tanya Reva dengan suara lirih. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Reva. Terdengar rapuh dan sarat akan ketakutan. "Dunia kamu bakal makin sibuk, Al. Kamu bakal dikelilingi orang-orang hebat seperti kolega bisnis papa kamu. Apa kamu masih punya waktu buat mampir ke kosanku? Apa kamu nggak akan malu ngenalin aku ke lingkungan baru kamu nanti?" Al terdiam sejenak. Ia meraih kedua tangan Reva di atas meja yang sedikit lengket, kemudian menggenggamnya dengan penuh keyakinan. Matanya langsung menatap tajam ke manik mata Reva. "Dengerin aku, Revalina Putri Gunawan," ucap Al dengan suara pelan, tetapi terasa sangat tegas. "Aku nggak peduli sehebat apa orang-orang di luar sana. Aku nggak peduli sama semua kolega bisnis Papa. Dari awal kita pacaran, aku udah milih kamu. Setelah aku resmi menjabat di perusahaan nanti, hal pertama yang bakal aku lakuin adalah bawa kamu ke rumah. Aku bakal kenalin kamu secara resmi ke Papa." "Tapi, Al ...." "Nggak ada tapi-tapian," potong Al cepat. "Aku yang jalani hidup ini, Reva. Bukan Papa. Kamu cuma perlu percaya sama aku. Bertahan sama aku. Janji?" Reva menatap mata cokelat terang milik Al. Ada ketulusan yang luar biasa di sana. Cinta yang begitu besar dan posesif hingga rasanya Reva bisa tenggelam di dalamnya. Perlahan, gadis itu mengangguk, mengukir senyum manis yang selalu berhasil menenangkan badai di kepala Al. "Janji," bisik Reva pelan tanpa tahu jika Tuhan akan memutar garis takdirnya seratus delapan puluh derajat.Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit grand ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta memancarkan cahaya yang angkuh, memayungi pesta pernikahan yang disebut-sebut sebagai merger terbesar dekade ini. Aliansi strategis antara Kusuma Group dan Pranoto Corp resmi dikunci di atas pelaminan hari itu. Di atas pelaminan yang didekorasi dengan ribuan mawar putih impor kelas premium, Aldebaran Kusuma berdiri tegap. Ia tampak gagah, tetapi tubuhnya kaku bagai patung lilin di dalam setelan tuxedo hitam klasik rancangan desainer Eropa.Di sampingnya, Elena Salsabila Pranoto tersenyum anggun ke arah puluhan kamera wartawan bisnis yang tak henti-hentinya memancarkan lampu kilat. Elena tampil memukau dengan gaun pengantin bertabur kristal Swarovski yang menyapu lantai marmer, memancarkan aura kemenangan seorang putri mahkota konglomerat yang baru saja mengamankan aset terbaiknya. Pernikahan itu, bagi Elena adalah kemenangan mutlak atas egonya dan validasi kekuasaannya di mata dewan di
Keesokan paginya, Al mendatangi gedung administrasi pusat universitasnya. Ia mengabaikan semua mata mahasiswa yang menatapnya penuh gunjing terkait berita pertunangannya dengan Elena. Fokusnya hanya satu: melacak jejak akademis Reva."Maaf, Mas Aldebaran Kusuma," ucap petugas administrasi wanita paruh baya itu dengan raut wajah sungkan setelah memeriksa data di komputer. "Mahasiswi atas nama Revalina Putri Gunawan dari Fakultas Ekonomi sudah resmi mengajukan surat pengunduran diri dan pencabutan berkas beasiswa dua minggu yang lalu."Al membelalak, dadanya mendadak terasa sesak seolah-olah dihantam benda tumpal. "Mengundurkan diri? Maksud Ibu, dia bukan ambil cuti akademik?""Bukan cuti, Mas. Berkasnya benar-benar dicabut secara permanen. Beliau menandatangani surat pernyataan keluar dari universitas ini," jelas petugas itu lagi sambil menunjukkan salinan dokumen di atas meja.Al menatap tanda tangan Reva di atas meterai pada lembaran kertas itu. Goresan penanya tampak tegas, mencermi
Reva meraih dompetnya, memeriksa sisa uang tabungannya yang tidak seberapa. Cukup untuk membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju kota tempat tinggal kakaknya, Keisha."Mbak Keisha," ucap Reva terisak lirih. Air mata kembali luruh membasahi pipinya yang pucat saat menggumamkan nama satu-satunya keluarga yang dimiliki. "Reva mau pulang, Mbak."Malam itu juga, di bawah guyuran hujan deras yang akhirnya mengguyur Jakarta, Reva melangkah keluar dari indekost dengan membawa satu koper berukuran sedang dan tas ransel lusuhnya. Ia menyerahkan kunci kamar pada pemilik kos dengan alasan ada urusan keluarga darurat yang membuatnya harus pulang kampung dalam waktu lama.***Tiga minggu berlalu sejak malam yang menghancurkan itu.Acara pertunangan megah antara Aldebaran Kusuma dan Elena Salsabila Pranoto telah sukses digelar di salah satu hotel bintang lima termewah di Jakarta. Foto-foto kemesraan palsu mereka menghiasi berbagai majalah bisnis dan infotainment selama berhari-hari. Di depan kamer
Al tidak membalas. Ia tetap bergeming sambil membuang muka, tidak berani menatap mata Reva karena tahu pertahanannya akan runtuh jika melihat air mata perempuan yang teramat dicintainya itu. "Mulai sekarang, jangan pernah cari aku lagi. Anggap kita nggak pernah kenal," ucap Al final. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Reva sendirian yang langsung merosot, menangis histeris sambil memeluk lututnya sendiri. Al berjalan cepat menjauhi area pohon rindang itu. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya lolos begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya. Dadanya terasa begitu sesak hingga kesulitan bernapas. 'Maafkan aku, Reva. Maafkan aku harus melakukan ini demi melindungi kamu,' jerit Al dalam hati. Namun, langkah kaki Al mendadak terhenti ketika mendengar suara bisik-bisik yang tiba-tiba berdengung di sepanjang koridor kampus. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul, menatap layar ponsel mereka dengan heboh, lalu menatap ke arah Al dengan pandangan penuh selidik dan keter


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.