“Kirana … walaupun gue peka, tapi kalau lo nggak cerita ada apa, gue nggak bakal tahu.” Sejak aku menangis dan memeluknya di teras, Anita langsung mengajakku masuk, duduk dan bicara baik-baik. Dia juga memberiku tisu dan air putih. Namun, setelah duduk, bukannya bicara dengan tenang, kesedihanku semakin menjadi. Tangisku pecah seakan tak bisa berhenti, seperti anak yang menangisi ibunya yang sudah meninggal. Entahlah, sedih sekali rasanya hatiku. Aku mengerti maksud Anita. Aku tak bermaksud memintanya menebak masalahku. Hanya saja rasanya lidahku kelu. Sejak tadi Anita hanya mengusap tubuh belakangku. Aku lalu menatapnya penuh air mata. “Gue … diusir dari rumah, Nit ….” “Siapa yang usir? Ibu mertua lo?” Aku menggeleng. “Mas Leo,” tangisku semakin menjadi. Aku memeluk Anita lagi. “Apa? Terus kalian berantem gara-gara apa?” Anita masih mengusap tubuh belakangku. “Gue dituduh selingkuh. Sama Revan.” Anita serta-merta menarik tubuhnya. Menatapku tak percaya. “Selingku
Huling Na-update : 2026-09-06 Magbasa pa