Namun, dia merasa seolah-olah sedang diinjak-injak olehnya, dan hanya bisa menatapnya dari bawah.Inilah rasa rendah diri yang telah tertanam dalam Keluarga Juana selama bertahun-tahun.Pratama menarik napas dalam-dalam, berjalan mendekat, lalu meletakkan teh di atas meja. "Tuan Kedua, silakan tehnya."Hadrian bahkan tidak mengangkat kelopak matanya. "Pak Pratama, aku dengar kamu cukup sukses di Kota Haisa, bahkan masuk tiga besar pengusaha properti."Nadanya sangat datar, seolah-olah sedang membicarakan cuaca cerah hari ini.Namun, keringat dingin langsung mengalir di punggung Pratama.Dia buru-buru menjawab, "Nggak, cuma usaha kecil-kecilan saja. Di depan Anda, saya masih cuma manajer cabang Keluarga Juana.""Benarkah?"Hadrian mengangkat cangkir, meminum tehnya, lalu tiba-tiba meletakkannya dengan keras sambil berkata dengan dingin, "Kamu bersikap begitu rendah diri, tapi anakmu melukai orangku di siang bolong."Pratama sontak berlutut di lantai. "Dia terlalu dimanja oleh ibunya, ma
اقرأ المزيد