Jam dinding di area tangga menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi Sena masih sibuk di lantai bawah. Usai menuntaskan shift sore dan menyempatkan diri mengantar obat ke kontrakan Arya, rasa lelah sebenarnya sudah menumpuk di sekujur tubuhnya. Namun, bayangan wajah gembira Chika besok pagi membuat rasa kantuk itu menguap begitu saja. Sena berdiri di depan meja bar dapur yang terang. Di hadapannya, beberapa mangkuk adonan berserakan. Gadis itu sedang membagi adonan cupcake ke dalam cetakan kertas kecil-kecil dengan penuh hati-hati."Sedikit lagi, Sena. Satu panggangan lagi terus tidur," bisiknya menguatkan diri. Ia membuka pintu oven, memasukkan loyang berisi adonan, lalu mengatur timer pada rentang waktu dua puluh menit. Karena tak sanggup lagi berdiri, Sena menyeberang ke kursi bar. Ia mendudukkan diri, melipat kedua lengan di atas meja, lalu menyandarkan dahinya di sana. Aroma mentega dan vanila yang mulai terpanggang perlahan memenuhi ruangan, bert
Terakhir Diperbarui : 2026-08-29 Baca selengkapnya