Sena menarik napas panjang, menahan gemuruh sesak yang menghantam dadanya. Ia memoles senyum profesional paling netral yang ia miliki, lalu mendorong pintu pantry hingga terbuka lebar. Suara bisik-bisik di dalam ruangan seketika terputus mendadak. Mbak Warni yang sedang memegang cangkir kopi hampir saja menumpahkan isinya, sementara dua perawat lain mendadak sibuk merapikan seragam mereka dengan canggung."Pagi, semuanya. Maaf ya, saya mau meletakkan tas dulu," sapa Sena tenang, suaranya terdengar begitu datar tanpa ada nada gentar sedikit pun."Eh... Pagi, Sen," sahut Mbak Warni dengan senyum kaku. Matanya menyipit penuh selidik, berusaha mencari raut panik di wajah Bidan muda itu. "Kamu udah dari tadi di depan pintu?""Baru aja nyampe kok, Mbak. Tapi sempat dengar sedikit," balas Sena santai seraya meletakkan tas
Última actualización : 2026-09-05 Leer más