Kain mantel hitamku meluncur jatuh ke lantai setelah kulempar ke sembarang arah, disusul kemeja yang kurobek kancingnya dalam satu tarikan kasar.Udara dingin ruangan ini langsung menyapu kulit dadaku yang telanjang, namun pembuluh darahku justru mendidih oleh lonjakan hawa panas yang membakar dari dalam.Aku kembali mendekat, bertumpu pada tepian peti mati kelabu berukir lambang Val Glory tersebut.Tanganku bergerak membuka sabuk kulit di pinggangku, melonggarkannya tanpa melepaskan celana panjangku sepenuhnya.Mataku menyipit tajam, mengunci manik ungu sang Ratu yang kini tampak berkilat antara rasa malu dan gairah yang menuntut.“Kau memang sengaja menyiram minyak ke dalam bara apiku, ‘kan?” tanyaku rendah, membiarkan seringai tipis terbit di sudut bibirku.Laverentina mencoba menegakkan dagunya, mempertahankan sisa-sisa wibawa yang kini tampak begitu rapuh di hadapanku.“Menjadi penyebab kematianmu sudah cukup membuat ayahmu menginginkan kepalaku,” lanjutku seraya mencondongkan tub
Last Updated : 2026-08-27 Read more