Keheningan mematikan seketika mencekik seisi ruangan.Tatapan Laverentina turun perlahan.Ia memindai bibirku yang basah berlumuran darah, lalu jatuh ke leher Rosemary yang penuh dengan bekas hisapanku.Kemudian pandangannya telihat mengunci kedua paha sang Archmage yang masih terbuka lebar dan menjepit pinggangku di atas kasur.“Kupikir ada hama liar yang tersesat, rupanya hanya penyihir menara yang lupa cara berbusana,” suara Laverentina membelah udara, sedingin embun kuburan.“Ratu Val Glory yang agung akhirnya repot-repot keluar dari kamar mewahnya,” sahut Rosemary dengan kekehannya yang renyah.Wanita ini menggerakkan tubuhnya dengan santai, bukannya terburu-buru menutupi dadanya yang telanjang dan berlumuran darah.Rosemary menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, menyilangkan kakinya dengan angkuh, membiarkan lelehan darah di dadanya mengalir lambat lebih turun.“Maaf jika kami mengganggu malam tenangmu, Baginda Ratu,” lanjut Rosemary. Senyum provokatifnya mengembang lebar,
Last Updated : 2026-09-14 Read more