Kaisar mengangguk tak keberatan. “Iya, Sayang.”Ekspresi pria itu berubah, seolah baru saja teringat sesuatu. “Oh iya, tadi kayaknya barangnya udah datang.”Kaira mengernyit heran. “Apa, Mas?”“Sebentar,” jawab Kaisar seraya turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar.Kaira memiringkan tubuhnya, menatap pintu saat suara langkah Kaisar kembali terdengar.“Itu apa, Mas?”Kaisar membawa sebuah bantal dengan lekukan khusus, seolah didesain untuk menyangga perut ibu hamil.“Bantal buat ibu hamil,” jawabnya, tepat seperti dugaan Kaira. “Bisa kamu peluk biar tidur kamu lebih nyaman. Perutmu ‘kan makin besar, keseimbangan tubuh kamu juga pasti makin berubah.”Kaisar meletakkan bantal itu di samping Kaira yang lalu merengkuhnya, rasanya nyaman dan pas, membuat tubuhnya rileks.“Gimana?” tanya Kaisar seraya menarik selimut.“Iya, enak banget.”“Tidurlah,” pinta Kaisar.Pria itu ikut membaringkan tubuh di depan Kaira, dipisahkan oleh bantal ibu hamil di antara mereka. Tangannya terjulur,
Last Updated : 2026-11-01 Read more