Zia melangkah menuju ruang makan dan mendapati Madhava sudah berada di sana. Pria itu duduk tenang sembari menyantap sarapannya seorang diri kala anggota keluarga yang lain belum berkumpul di meja makan. Zia berjalan mendekat, lalu bertanya, “Mas buru-buru banget ya?” Madhava hanya mengangguk singkat tanpa suara sembari mengunyah salad dari sendoknya. “Apa ada hal lain yang bakal Mas lakuin di luar kota?” tanya Zia lagi, mencoba memancing agar pria itu bicara karena sejak pulang dari rumah Daniel sikapnya terasa … dingin. Madhava membalas datar, “Apa emangnya? Kerja ya kerja, ‘kan?” Sama sekali tidak ada torehan tatapan dari Madhava untuk Zia. Merasa diabaikan, Zia meremas jemarinya sendiri, menghalau rasa canggung. Ia melangkah kian dekat, lalu menyahut lagi, “Mungkin … ada seseorang yang mau Mas kunjungi di sana?” “Seperti siapa contohnya?” tantang Madhava, kerlingan matanya tajam, suaranya menuntut, seolah agar Zia tak asal bicara. “Soalnya tadi aku lihat Mas masukin baju pe
Last Updated : 2026-10-20 Read more