Aku membuka mata dan mendapati Sean berdiri di samping tempat tidurku. Senyum kecil terbit di bibirku ketika melihatnya, lalu aku menyapanya dengan suara lirih. Namun, suara yang keluar dari tenggorokanku sendiri terdengar begitu asing sampai-sampai aku merasa tidak nyaman mendengarnya. Serak, lemah, dan nyaris tidak menyerupai suaraku yang biasa. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun aku tidak pernah mendengar diriku sendiri berbicara.“Oh, Mika, Sayang. Malaikatku, kau sudah kembali. Kau benar-benar kembali.”Mata Sean berkaca-kaca. Dia membelai puncak kepalaku sebelum mengecup dahiku dengan lembut, berhati-hati agar tidak menyentuh bagian yang terluka. Aku menatap wajahnya yang begitu dekat, merasakan kerinduan yang selama ini bahkan tidak kusadari telah menumpuk di dalam dada.“Aku merindukanmu,” bisikku.Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dariku. Sean tersenyum, tetapi air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Aku mengangkat tangan yang tidak terpasang infus, lalu menyek
Last Updated : 2026-10-17 Read more