Pintu mobil tertutup dengan bunyi keras, seolah menjadi pelampiasan amarah yang sejak tadi kutahan.Aku menggenggam setir erat-erat. Dadaku masih naik turun, sementara bayangan wajah ibuku dan pria bernama Sean Valentino terus berputar di dalam kepala.Hari ini benar-benar kacau.Beberapa jam lalu, Phillip menghancurkan harapanku dengan satu kalimat sederhana."Kau lebih cocok menjadi adik perempuanku."Belum sempat aku mengubur rasa sakit itu, ibuku justru mengatakan bahwa aku akan menikah dengan pria yang bahkan baru kutemui beberapa menit.Aku mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi."Kenapa semuanya harus terjadi di hari yang sama?" gumamku lirih.Ponsel di jok sebelah kembali bergetar.Layar menampilkan nama Caroline.Aku mengusap cepat sisa air mata di pipi sebelum mengangkat panggilan itu."Halo?""Mika, kamu di mana?" suara Caroline terdengar riuh, diiringi dentuman musik yang samar. "Kita pindah ke Pub Montez. Phillip ngajak semua orang lanjut n
Last Updated : 2026-07-16 Read more