"ARRGH!"Anya terbangun mendadak dari mimpinya, napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi keningnya. Mimpi itu terasa begitu nyata—terlalu nyata untuk sekadar diabaikan begitu saja.Entah kenapa gue ngerasa mimpi ini bakal jadi kenyataan, batinnya, masih berusaha menenangkan detak jantung yang belum sepenuhnya reda."Hufft, mungkin karena kepikiran mulu makanya kebawa mimpi," gumamnya lirih pada diri sendiri, mencoba menenangkan diri. "Takut banget gue," bisiknya, bergidik ngeri setiap kali potongan mimpi itu kembali terlintas di kepalanya.Ia melirik jam di meja belajar—pukul 06.07. Tanpa membuang waktu lagi, Anya bangkit, merapikan tempat tidurnya, lalu berjalan ke kamar mandi untuk bersiap.Setelah selesai, ia mengenakan hoodie kebesarannya seperti biasa, tak lupa menyampirkan tas selempang kesayangannya. Ia menarik koper kecilnya, lalu melangkah menuruni tangga."Bibi, Anya berangkat dulu ya," pamitnya begitu sampai di lantai bawah."Iya, Non. Hati-hati ya di sana, sama j
Last Updated : 2026-08-22 Read more