Hening sejenak di seberang telepon.Masih di dalam toilet, Selina memejamkan mata makin rapat, merutuki nasibnya yang harus berurusan dengan Kaivan dalam situasi se-memalukan ini.“Pembalut... sama celana dalam?” suara Kaivan terdengar lambat, ada jeda samar yang menandakan laki-laki itu sedang mencerna perkataan Selina.“Iya! Yang ukuran medium atau freesize terserah deh! Apa pun, seadanya di sana. Maaf harus ngerepotin, tapi tolong banget, Kai, baterai HP-ku mau mati—"Bip.Sebelum Selina sempat menyelesaikan perkataannya, layar ponsel Selina langsung gelap total. Daya baterainya habis. Selina mengerang frustrasi, menyandarkan kepala ke pintu kayu bilik toilet yang dingin.Bersama kram perut yang makin menjadi-jadi, Selina hanya bisa pasrah. Selina tidak berharap banyak, kalau Kaivan tidak datang pun Selina sudah siap benar-benar terjebak di sini sampai malam.Lima belas menit berlalu. Masih tidak ada orang yang datang ke toilet itu, yang bisa Selina mintai tolong.Sampai akhirnya,
Last Updated : 2026-08-28 Read more