Home / Urban / Gairah Terpendam Ibu Kost / Bab 11 : Rara Yang Membara

Share

Bab 11 : Rara Yang Membara

last update publish date: 2026-08-07 06:32:39

Udara dingin dari pendingin ruangan kafe mendadak terasa seperti embusan angin malam yang menusuk tulang.

Mataku masih terpaku pada pantulan bayangan di kaca jendela besar kafe. Jarak kami hanya terpisahkan oleh aspal jalan raya yang panas dan deretan kendaraan yang merayap pelan.

Di antara kerumunan pejalan kaki yang lalu-lalang, sosok Rara berdiri bagaikan hantu siang bolong. Jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya tampak kontras dengan teriknya matahari Jakarta hari itu.

Rambutnya yang se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 12 : Lamunan Di balik Selimut

    Aroma kain linen yang lembab dan bau sisa keringat malam tadi masih menguar pekat di kamar nomor tujuh. Aku berbaring telentang menatap langit-langit kamar yang bernoda kecoklatan akibat rembesan air hujan, sementara getaran ponsel dari pesan ancaman Rara tadi masih terasa berdengung di saku celanaku.Pesan itu memaksa pikiranku mundur, melepaskan diri dari kenyataan pahit bersama Dila, dan menyeretku kembali ke dalam lorong memori yang basah dan bising.Semua itu bermula pada bulan pertama kedatanganku ke Jakarta. Rara, dengan segala keberanian dan dunianya yang benderang, tiba-tiba menarikku keluar dari sarang persembunyianku sebagai jurnalis magang yang kucel. Aku ingat betul malam ketika ia menyeretku ke sebuah kelab malam eksklusif di kawasan SCBD. Bass musik elektronik yang menghentak dada bergetar hebat hingga menembus tulang rusukku, bercampur dengan bau alkohol mahal, keringat tubuh yang bergesekan, dan pekatnya asap vape rasa buah beri yang mengepul di udara remang-remang

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 11 : Rara Yang Membara

    Udara dingin dari pendingin ruangan kafe mendadak terasa seperti embusan angin malam yang menusuk tulang. Mataku masih terpaku pada pantulan bayangan di kaca jendela besar kafe. Jarak kami hanya terpisahkan oleh aspal jalan raya yang panas dan deretan kendaraan yang merayap pelan.Di antara kerumunan pejalan kaki yang lalu-lalang, sosok Rara berdiri bagaikan hantu siang bolong. Jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya tampak kontras dengan teriknya matahari Jakarta hari itu. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin jalanan, menutupi sebagian wajahnya, namun tatapannya tidak bisa disembunyikan. Sepasang mata itu menyala terang, memancarkan amarah yang membara, rasa tidak terima, dan kepemilikan yang terluka. Ia menatapku tanpa berkedip, seolah ingin merobek-robek kaca jendela kafe ini menggunakan tangannya sendiri.Dadaku bergemuruh hebat. Ada rasa kaget yang mencengkeram paru-paru, bercampur aduk dengan sensasi aneh berupa rasa bersalah yang menusuk pelan. Hubunganku dengan

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 10 : Membujuk Pacar Yang Ngambek

    Tenggorokanku terasa tercekat. Keringat dingin langsung merembes di pelipis, menembus sisa-sisa rasa lelah yang masih mendekam di setiap sendi tubuhku. Di hadapanku, Dila berdiri tegak dengan postur kaku, tatapannya menyapu setiap inci kamar kos yang berantakan seperti kapal pecah. Seprai ranjang kusut masai, kaos oblong putih yang robek tak berbentuk di sudut ruangan, dan aroma pekat vanilla-musk bercampur keringat masih mengambang di udara, menolak untuk menguap."Demian..." Suara Dila meluncur pelan, begitu dingin hingga membuat bulu kudukku meremang.Ia melangkah mendekati meja kecil, menyentuh mangkuk sup hangat yang masih mengepulkan uap tipis. "Kamu bahkan punya pelayan pribadi sekarang? Sup hangat di siang bolong? Hebat sekali staf magang kita ini.""Dila, tunggu... ini tidak seperti yang kamu bayangkan," kataku terbata, mencoba bangkit dari ranjang meski otot-otot pahaku masih berdenyut nyeri. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang hanya mengenakan celana bahan,

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 9 : Puyeng Jadi Rebutan

    Udara di dalam kamar nomor tujuh terasa berat, dipenuhi bau keringat, aroma vanilla-musk yang pekat, dan sisa-sisa napas panas yang belum sepenuhnya reda. Siska masih terduduk di atas lantai beralas karpet tipis, bahunya bergetar hebat. Ia menatap ibunya dengan campuran rasa takut dan amarah yang tertahan di tenggorokan.Eva tidak membuang waktu untuk berteriak atau meledakkan amarahnya. Tatapannya dingin, setajam silet yang siap merobek apa saja.Dengan gerakan dagu yang mengisyaratkan perintah mutlak, ia menunjuk ke arah pintu."Keluar, Siska," suara Eva rendah, tidak memberikan ruang untuk bantahan. "Atau kamu ingin semua rahasiamu di kantor ibumu ini terbongkar malam ini juga?"Siska mendesis pelan, air matanya tumpah dalam diam. Tanpa berkata-kata lagi, ia menyambar jaketnya yang berserakan, merangkak turun dari ranjang dengan langkah gontai lalu membanting pintu kamar itu dari luar.Brak. Kini, tinggallah aku dan Eva. Di bawah tatapan wanita paruh baya yang elegan itu, tubuhku

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 8 : Tiba-tiba Ada Yang Datang

    Suara logam yang beradu dengan lubang kunci tadi ternyata hanyalah permulaan dari kekacauan yang lebih liar. Sebelum aku sempat menyadari siapa yang berdiri di balik celah pintu, pintu kamarku didobrak dengan tenaga yang brutal. Bukan pria yang kukhawatirkan tadi, melainkan Siska.Ia muncul dengan pemandangan yang membuat akal sehatku tersentak. Jaket zip-nya sudah tidak ada, dan ia hanya menyisakan rok ketat yang sudah tersingkap ke atas, sementara atasan kemejanya sudah ia robek dengan sengaja hingga kancingnya berhamburan ke lantai. Ia berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, matanya memancarkan api obsesi yang mengerikan."Kau pikir kau bisa lolos dariku, Demian?" desisnya.Suaranya serak, penuh dengan keputusasaan yang dipaksakan.Tanpa memberiku kesempatan untuk bicara, ia menerjang masuk. Tubuhnya yang hangat dan wangi parfum fruity yang kini bercampur dengan bau alkohol dari ruang makan tadi menghantam tubuhku hingga aku terhempas ke atas kasur. Ia tidak membuang waktu; d

  • Gairah Terpendam Ibu Kost   Bab 7 : Kegelapan Yang Menyelamatkan

    Kegelapan total yang menyelimuti ruang makan bukan sekadar kehilangan cahaya; itu adalah vakum yang menelan segala suara. Di punggungku, moncong dingin pistol perak Eva masih menekan tulang belakangku, seolah menjadi pengingat bahwa setiap napas yang kuambil kini berada di bawah kendali pelatuknya. Siska dan Rara membeku di seberang meja, napas mereka yang tertahan terdengar seperti desisan ular dalam sunyi."Jangan bergerak," bisik Eva, suaranya sedingin es di tengah gurun. "Katakan siapa yang kamu pilih, Demian. Sekarang."Jantungku berdegup kencang, menghantam rusuk seolah ingin keluar dari kurungan tulang dada. Tepat saat aku hendak memutar otak untuk mengeluarkan jawaban yang tidak akan membuatku mati, sesuatu yang tidak terduga terjadi.Srak ! Srak !Suara cakaran kecil dan gesekan benda di lantai kayu jati bawah meja terdengar sangat nyaring. Sesuatu yang berbulu, dingin, dan cepat menyentuh pergelangan kakiku. Aku menahan jeritan—bukan karena takut, tapi karena terkejut. It

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status