“Karin, kamu ngapain disini?”Karin terkejut, ia menggigit bibirnya gugup. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan kalau ia menjawab berada di arena bermain anak-anak hanya karena iseng?Apalagi tangan Keenan masih memegang tangannya dengan erat. Tapi, kalau ia jawab menemani Keenan anak dari Gavin bermain, itu juga bukan jawaban yang harusnya ia lontarkan.Karin serba salah.“Ayo, Mama,” ajak Keenan kembali menarik tangan Karin.“Kamu sudah punya anak?”Karin menggeleng. “Bu-bukan, Pak—““Eh bentar, anak ini…”“Aku Keenan,” jawab Keenan sambil menatap Pak Frengki dengan berani.“Iya, kamu Keenan. Kok sepertinya saya pernah melihat. Ini siapanya kamu, Karin?” tanya Pak Frengki lagi.Lidah Karin kelu, ia tidak bisa lagi berkata-kata. Suaranya seolah hilang di tenggorokan, ia benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, mungkin kalau tidak dilapisi dengan lipstik, bibirnya pasti sudah pucat pasi.“Ini anaknya Pak Gavin,” jawab Karin akhirnya.Karin tahu, saat ini tidak ada
Last Updated : 2026-08-22 Read more