“Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.Karin mendongak. “Iya, Pak.”“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada mas
Last Updated : 2026-08-09 Read more