“Karin, itu bukan keinginan Bapak,” ujar Pak Rohman.Karin tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya. Ia sudah bisa menebak bahwa ayahnya akan mengatakan hal semacam itu. Sejak dulu, Pak Rohman selalu memiliki alasan untuk membenarkan keputusan-keputusannya, seolah-olah semua yang terjadi bukanlah tanggung jawabnya.“Aku tahu, Pak. Itulah makanya aku membiayai hidupku sendiri sejak SMA hingga saat ini.” Karin berhenti sejenak, menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Dan kenapa sekarang, ketika menyangkut Viko, aku yang harus membiayainya?”Pak Rohman terdiam. Ia tampak kesulitan mencari jawaban yang bisa membuat putrinya mengerti.“Karena Bapak sudah tidak mampu, Karin.”Karin mengembuskan napas panjang. Ia menunduk sebentar, berusaha menahan perasaan yang semakin sulit dikendalikan. Jawaban itu terdengar begitu sederhana, tetapi bagi Karin, ada begitu banyak kepedihan yang terkandung di dalamnya.“Dulu, Bapak mampu, tetapi tidak mau membiayaiku,” balas Karin. “Sekar
Last Updated : 2026-10-13 Read more