Matahari pagi menembus celah gorden tipis, membiarkan sinar hangat jatuh di atas ranjang king size yang berantakan. Keira masih menyandarkan kepalanya di dada bidang Arsen, menikmati pelukan hangat pria itu yang melingkar erat di pinggangnya.Dering lembut ponsel Keira di meja nakas tiba-tiba memecah keheningan pagi.Keira menggeliat pelan, meraba meja tanpa membuka mata penuh. Dengan napas teratur, dia menggeser layar dan menempelkan gawai itu di telinganya."Halo, Papa? Ada apa pagi-pagi telepon?" bisik Keira dengan suara serak khas bangun tidur.Di seberang telepon, terdengar kekehan pelan dari Bram. "Halo, Sayang. Maaf ya, Papa mengganggu tidurmu?""Tidak kok, Pa," sahut Keira seraya tersenyum manis, memiringkan posisinya hingga makin menempel pada tubuh Arsen. "Ada yang penting, Pa?""Ini... Papa mau minta tolong," ujar Bram setengah berbisik, seolah takut terdengar oleh orang lain di rumahnya. "Hari ini kan ulang tahun pernikahan Papa dan Mama yang ke-27."Keira seketika membuka
Última actualización : 2026-08-24 Leer más