Langkah kaki Keira bergema cepat menelusuri koridor rumah sakit. Dia bahkan tidak menghiraukan rasa perih di bahu serta lengan bawahnya yang terbalut kasa darurat buatan Arsen. Di depannya, pintu kamar rawat inap VIP tempat Sinta dipindahkan akhirnya terlihat.Tanpa mengetuk, Keira mendorong pintu itu hingga terbuka. Di samping ranjang, Bram sedang duduk menggenggam jemari Sinta yang masih pucat."Mama," panggil Keira dengan suara serak yang bergetar.Sinta menoleh pelan ke arah pintu. Senyum tipis yang lemah terukir di bibirnya yang kering. "Keira sayang."Keira langsung berlari mendekat. Dia berlutut di tepi ranjang, merengkuh tubuh ibunya dengan hati-hati, lalu menangis sesenggukan di dada Sinta."Mama, maafkan Keira," bisik Keira di balik tangisnya. "Maafkan Keira, Ma."Sinta mengusap lembut rambut putrinya dengan tangan yang terpasang selang infus. "Kenapa minta maaf, Nak? Mama tidak apa-apa.""Mama bohong," sahut Keira seraya mendongak dengan mata memerah dan pipi basah. "Mama
Última actualización : 2026-08-28 Leer más