Aura membunuh seketika terpancar dari tubuh Arsen. Sepasang matanya menggelap dipenuhi kilatan amarah yang pekat, dan rahangnya mengeras sempurna hingga buku-buku jarinya memutih karena mengepal erat. Arsen menarik tubuhnya menjauh, kembali memasang dinding pembatas sedingin es di antara mereka. "Pria idamanmu sudah menelepon, Keira," desis Arsen dengan suara rendah, tajam, dan sarat akan kekecewaan mendalam. "Silakan angkat. Bukankah ini momen yang paling kau tunggu-tunggu sejak tadi?" Keira tidak panik. Ia justru menatap Arsen dengan tenang, seulas senyuman sinis yang ditujukan untuk si penelepon terukir di bibirnya. Tanpa ragu, Keira mengulurkan tangan, menggeser tombol hijau, lalu menekan tombol loudspeaker tepat di hadapan suaminya. "Keira! Tim analisiskum baru saja selesai mengecek seluruh isi flashdisk yang kamu berikan di kafe semalam!" suara Leon terdengar sangat antusias dan tidak sabar dari seberang telepon. "Semua dokumen strategi tender Alastair Group benar-b
Last Updated : 2026-07-25 Read more