"Serahkan gagang telepon itu padanya sekarang juga," ujar Reno Elric datar dari balik sambungan telepon internal, nadanya begitu dingin bagaikan belati es yang siap menembus ulu hati. Resepsionis yang ketakutan setengah mati itu langsung menjulurkan gagang telepon nirkabel dengan tangan gemetar ke arah Shena. Shena menyambar telepon itu dengan jemarinya yang berdarah, menempelkan benda itu ke telinganya dengan harapan liar yang membumbung di dada. "Reno! Tolong dengarkan aku! Aku ada di bawah, aku cuma mau bicara padamu sebentar saja!" jerit Shena histeris, suaranya parau menahan tangis yang pecah. Keheningan membeku terjadi di seberang saluran selama beberapa detik, sebelum suara berat Reno bergema tanpa riak emosi. "Kamu tidak punya hak lagi untuk menyebut namaku atau menginjakkan kaki di gedungku, Shena," pangkas Reno tajam. "Aku tidak akan pernah menemuimu. Pergi sebelum pengawalku melemparmu ke bak sampah," lanjut Reno
Terakhir Diperbarui : 2026-08-26 Baca selengkapnya