"Uang pendaftaran ICU rumah sakit rujukan minimal lima puluh juta rupiah, Nona!" Suara dokter Puskesmas itu terus bergema memekakkan telinga Shena, bagaikan lonceng kematian yang menyayat jiwanya. Shena berlari menerobos gerimis malam dengan napas memburu dan air mata yang menyatu bersama rintik hujan. Di belakangnya, sang ibu terbaring kritis di atas brankar kusam dengan selang oksigen yang melekat lemah di hidungnya. Layar ponsel Shena memancarkan warna merah berkedip—baterai tersisa tiga persen. Dengan jari gemetar dan panik yang membakar dada, Shena menekan nomor kontak teman-teman sosialitanya. "Hallo, Clarissa? Ini aku, Shena! Tolong aku, Ibuku kumat jantung dan butuh uang lima puluh juta—" "Shena Wijaya? Hahaha!" Suara tawa melengking bernada hina menyambar dari seberang telepon. "Kamu pikir kami tidak tahu keluargamu sudah bangkrut dan jadi buronan pencucian uang? Jangan pernah hubungi aku lagi, Dasar Pengemis!" BIP. Sambungan telepon diputus secara sepihak.
Terakhir Diperbarui : 2026-08-21 Baca selengkapnya