Mag-log in"Reno, tolong jangan tinggalkan aku!" tangis mantan istrinya, berlutut memohon di tanah. Reno tersenyum dingin. Tiga tahun dihina sebagai pria sampah, kini penyamarannya usai. Identitas aslinya sebagai pewaris Elric Group dan Penguasa Bayangan terbongkar, membuat bursa saham berguncang dan para musuh gemetar ketakutan! Bahkan Vanya Adijaya, Ratu Bisnis paling cantik, menyerahkan seluruh kekuasaannya demi berlutut di ranjang Reno: "Malam ini, seluruh tubuh dan jiwaku milikmu, Reno."
view moreBegitu langkah kaki Reno terhenti di depan pintu kamar VIP lantai dua yang sedikit renggang, suara desah memburu dan tawa manja seorang wanita dari dalam langsung membekukan darahnya.
Padahal beberapa menit lalu, seorang pelayan hotel memberitahunya dengan sopan bahwa Shena—istrinya—sedang berada di dalam ruangan tersebut untuk beristirahat. "Ah... Dion, pelan-pelan... Bagaimana kalau Reno tiba-tiba datang ke ruang VIP ini?" bisik Shena dari balik pintu dengan napas terengah. Tubuh wanita bergaun malam itu meliuk pasrah di bawah kungkungan pria yang berstatus sebagai adik angkat suaminya sendiri. Keduanya terhanyut dalam gairah terlarang di dalam ruangan megah berdinding kaca tebal yang terkunci dari dalam. "Abaikan si sampah itu, Sayang. Malam ini adalah malam perayaan kesuksesan kita. Proyek ratusan miliar keluargamu tembus karena kekuasaan dan uangku, bukan karena suamimu yang tak berguna itu," sahut suara pria yang sangat Reno kenal. Dion tertawa pelan, menatap gemerlap lampu kota di bawah guyuran hujan lebat dari balik jendela kaca kamar. "Bahkan Vanya Adijaya—Ratu Bisnis yang terkenal sangat dingin dan berpengaruh itu—malam ini sengaja menginap di Suite VIP teratas hotel ini cuma buat memantau pergerakan investasi kita," pamer Dion dengan nada kesombongan yang meluap-luap. "Benarkah? Wanita sesempurna Vanya Adijaya bersedia hadir di hotel milik keluarga kita?" tanya Shena dengan binar mata terkagum-kagum. "Tentu saja. Uang dan jaringanku bisa mendatangkan siapa saja yang kuinginkan ke tempat ini," balas Dion seraya menyunggingkan senyuman culas. Di balik celah pintu yang terbuka dua sentimeter itu, Reno berdiri mematung. Kotak hadiah ulang tahun sederhana bertuliskan nama Shena yang digenggamnya sejak pagi perlahan hancur teremas di jarinya—hancur bagaikan harga dirinya yang baru saja dilempar ke comberan. Dua tahun lalu, saat Shena terbaring sakit keras dan perusahaan ayahnya nyaris ambruk, Renolah yang bergadang tiap malam menunggunya, memijat kakinya yang lelah, dan memasakkan makanan hangat setiap hari. Reno rela menahan hinaan keluarga Wijaya demi menjaga janji sucinya pada almarhum Kakek Shena—satu-satunya orang di keluarga Wijaya yang menyambut Reno dengan tulus dan memohon di pembaringan terakhirnya agar Reno menjaga cucunya. Demi menghormati wasiat almarhum Kakek Shena dan menyelesaikan Aturan Suksesi Keluarga Elric, Reno rela menyembunyikan identitas aslinya sebagai penguasa tunggal Elric Group dan hidup sebagai babu selama tiga tahun. Namun malam ini, wanita yang dijaganya sepenuh hati itu justru mendesah di atas sofa bersama pria lain, menyamakan seluruh pengorbanannya sebagai sampah tak berharga. Rasa sakit yang teramat sangat menghujam ulu hati Reno, membakar sisa-sisa rasa ibanya menjadi dendam yang dingin. BRAK! Pintu ganda kamar VIP terdorong kasar. Reno melangkah masuk ke dalam ruangan, menatap dua pengkhianat di atas sofa itu dengan tatapan tajam menembus jantung. "Suara kalian terlalu bising sampai membuat telingaku gatal," ucap Reno dengan suara datar yang menekan. Shena terperanjat kaget hingga langsung melompat berdiri dan menarik kain gaunnya untuk menutupi dadanya yang terbuka. Wajah cantik wanita itu sempat memucat pasi sebelum akhirnya berganti menjadi tatapan melotot penuh kejijikan. "Reno?! Sedang apa kamu bersembunyi di dalam sana, dasar pria mesum tidak tahu diri!" bentak Shena dengan suara melengking. "Kenapa? Kamu takut rahasia busukmu terbongkar sebelum proyek keluarga Wijaya resmi ditandatangani?" balas Reno seraya melangkah mendekat. "Rahasia busuk apa?! Kamu itu cuma suami tidak tahu diuntung! Tiga tahun aku menikah denganmu, tidak pernah sekalipun kamu memberiku kemewahan atau perhiasan mahal!" jerit Shena meluapkan amarahnya. "Lagipula pernikahan kita dari awal cuma kesalahan karena menuruti wasiat almarhum Kakekku yang pikun!" Reno menghentikan langkah kakinya. Tatapan matanya makin menajam dingin. "Kakekmu tidak pikun, Shena. Beliau satu-satunya orang di keluarga Wijaya yang menyambutku dengan tulus dan memohon agar aku menjagamu," pangkas Reno dengan suara menekan. "Tapi malam ini, kamu sendiri yang menghancurkan kehormatanmu dan menginjak-injak janji almarhum kakekmu demi pria lain." Shena tertawa mengejek, matanya memancarkan rasa hina yang luar biasa. "Menjagaku?! Kamu pikir perhatian murahanmu, masakan hangatmu tiap malam, dan mijitin kakiku itu ada harganya dibanding uang dan koneksi Dion?!" sembur Shena tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Sadar diri, Reno! Kamu itu cuma cacing tanah!" "Uang yang kamu pamerkan untuk menyewa ruang VIP hotel ini sebenarnya hasil keringatmu sendiri atau dana haram, Dion? Kamu yakin sedang tidak menjebak keluarga Wijaya?" sindir Reno santai, berpaling menatap Dion. Wajah Dion seketika memerah menahan malu dan amarah. "Kurang ajar! Kamu pikir kamu siapa berani mempertanyakan kemampuanku?!" "Tutup mulut busukmu, Reno!" teriak Shena histeris membela selingkuhannya. "Tanpa bantuan uang dan koneksi bisnis Dion, perusahaan ayahku sudah bangkrut total hari ini! Kamu tidak punya hak sedikit pun untuk menghina Dion!" "Kamu sungguh percaya semua proyek jutaan dolar itu mengalir murni karena kehebatan Dion, Shena? Kamu benar-benar sebuta itu?" bisik Reno seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. "Tentu saja aku percaya! Memangnya aku harus berharap pada suami sampah sepertimu yang cuma jadi beban keluarga?!" jerit Shena. "Cukup! Jangan berakting seolah kamu paham dunia bisnis kelas atas, wahai parasit tak berguna!" teriak sebuah suara wanita paruh baya dari arah pintu utama suite. Karina, ibu mertua Reno, melangkah masuk ke dalam kamar dengan gaun malam mewahnya. Tangan kanannya menggenggam gelas kristal berisi wine merah pekat. "Ibu! Pria sampah ini tiba-tiba menerobos masuk tanpa izin dan bicara sangat lancang pada Dion!" adu Shena dengan raut wajah memelas yang dibuat-buat. "Dasar makhluk tak tahu malu! Berani-beraninya kamu merusak malam kebahagiaan dan kejayaan putriku!" murka Karina seraya mendekati Reno dengan langkah lebar. "Malam kejayaan atau malam penjualan diri putri Ibu demi sebongkah investasi yang belum tentu jelas?" balur Reno dengan tatapan mata yang tajam menembus manik mata ibu mertuanya. BYUR! Cairan wine merah pekat di dalam gelas kristal dihempaskan tepat ke wajah Reno tanpa keraguan sedikit pun. Alkohol basah membasahi kemeja putih lusuh milik Reno, menetes perlahan menembus garis rahangnya yang tegap. Sensasi dingin dan bau asam alkohol membakar kulit wajah Reno. Namun Reno bahkan tidak berkedip. Dia menyapu tetesan wine di dagunya menggunakan punggung tangan seraya menatap Karina tanpa emosi. "Tatapan apa itu?! Kamu berani menatapku seperti ingin membunuhku, Reno?!" teriak Karina histeris melihat ketenangan ganjil di mata menantunya. "Aku hanya merasa kasihan padamu, Ibu Mertua. Kamu memeluk erat ular beludak berbisa sambil membuang emas murni ke dalam lumpur comberan," balas Reno dingin. "Emas murni?! Hahaha, pemimpi gila! Kamu itu cuma cacing tanah yang kebetulan menempel di telapak sepatu keluarga kami!" ejek Dion seraya melangkah ke sudut ruangan. "Dion! Panggil para pengawal hotel sekarang juga! Hancurkan wajah sok hebatnya ini sampai dia sadar diri di mana posisinya!" perintah Karina dengan napas memburu akibat amarah. "Dengan senang hati, Bibi Karina. Orang seperti dia memang butuh pelajaran fisik agar otak bodohnya bisa bekerja dengan benar," sahut Dion seraya menekan tombol interkom. Hanya dalam hitungan belasan detik, pintu suite terbuka kasar dan empat pria berbadan tegap berjas hitam menerobos masuk. "Hajar pria ini sampai babak belur! Pastikan dia tidak bisa berjalan keluar dari ruangan ini dengan kakinya sendiri!" perintah Dion seraya menunjuk Reno. Para pengawal tegap itu langsung menerjang Reno tanpa memberi ruang sedikit pun. Pukulan mentah dan tendangan keras mendarat bertubi-tubi di dada dan perut Reno tanpa ampun. BUM! BRAK! Reno sebenarnya memiliki kemampuan beladiri tingkat tinggi untuk meremukkan leher keempat pengawal itu dalam hitungan detik. Namun, Aturan Suksesi Keluarga Elric menahan setiap refleks otot tubuhnya untuk tidak membalas. Demi memegang kendali penuh atas takhta dan aset ratusan triliun Elric Group, Reno wajib menyamar tanpa menggunakan kekuatan fisik maupun kekuasaan selama tiga tahun berturut-turut. Malam ini adalah malam terakhir dari ujian penyamaran tersebut. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 23:50 malam, menyisakan sepuluh menit berdarah sebelum batas waktu tiga tahun itu berakhir sepenuhnya. 'Dua tahun aku merawatmu, Shena... tiga tahun aku menjaga janji almarhum kakekmu... dan ini balasan kalian?' batin Reno seraya menahan muntahan darah di tenggorokannya. 'Tinggal sepuluh menit lagi. Nikmati kesombongan kalian malam ini, karena esok hari kalian akan berlutut memohon ampun padaku.' Darah segar menyembur keluar dari sudut mulut Reno, membasahi lantai karpet bulu kamar VIP. Shena dan Karina menonton pembantaian itu dari atas sofa dengan senyuman puas yang meliuk di bibir mereka. "Pukul lebih keras di bagian wajahnya! Biar dia tahu rasanya menghina calon penguasa baru keluarga Wijaya!" seru Shena seraya menyemangati para pengawal. "Seret anjing ini lewat tangga darurat menuju lorong pintu servis belakang hotel! Biarkan air hujan deras malam ini membersihkan sisa darah kotornya!" tambah Karina seraya tersenyum penuh kedengkian. Keempat pengawal itu mencengkeram kasar kerah kemeja Reno yang sudah robek dan menyeret tubuhnya melintasi koridor belakang. Reno tidak merintih sedikit pun, membiarkan tubuhnya diseret bagaikan bangkai tak berharga. BRAK! Pintu besi tebal jalur belakang hotel terbuka kasar dan tubuh Reno dilemparkan begitu saja ke atas aspal gang yang kotor. Air hujan yang lebat seketika menyiram tubuhnya yang penuh luka memar dan ceceran darah segar. Dion melangkah keluar ke ambang pintu seraya merangkul pinggang Shena yang baru saja menyusul memakai mantel bulu mewahnya. "Ingat posisi rendahmu, Reno! Kamu hanyalah sampah jalanan yang kebetulan kami beri makan selama tiga tahun!" teriak Dion seraya meludah ke arah genangan air di dekat kepala Reno. "Tunggu di sini dan jangan berani bergeser satu sentimeter pun, Pria Miskin!" pangkas Shena seraya melemparkan tatapan paling hina sebelum melangkah masuk dan membiarkan pintu besi tertutup rapat.Langkah kaki Reno menuntun Vanya melewati panel rahasia menuju Presidential Suite 801. Dari sana, sebuah tangga privat berlapis baja membimbing mereka langsung menuju helipad rooftop Grand Hotel.Hujan deras di luar mulai menyusut menjadi gerimis tipis. Tepat pukul 00:20 tengah malam, suara deru baling-baling helikopter memecah heningnya kegelapan langit malam.Sebuah helikopter hitam tanpa identitas mendarat mulus di tengah helipad. Begitu pintu kabin terbuka, Albert melangkah keluar diikuti tiga pria berjas hitam tegap serta seorang dokter pribadi berseragam medis Elric Group.Albert langsung berlutut satu kaki di atas lantai helipad yang basah, menundukkan kepalanya penuh penghormatan."Selamat datang kembali di puncak kekuasaan, Yang Mulia Reno Elric," ucap Albert dengan suara bergetar menahan haru.Dua pengawal di belakang Albert dengan cepat membentangkan tas pakaian kulit mewah. Di dalamnya terlipat setelan jas custom-made berwarna hitam pekat buatan penjahit terbaik Eropa, kem
Dua pria berjas hitam di depan Suite 808 masih sibuk mengamati layar camcorder dan perangkat retas digital di tangan mereka. Mereka begitu fokus sampai tidak menyadari bayangan tegap yang merayap cepat dari balik pilar marmer.Reno bergerak tanpa suara. Sebelum pria memegang kamera sempat menoleh, Reno mencengkeram belakang lehernya dan menghantamkan kepalanya ke dinding berlapis kain wol tebal di samping pintu.TAK!Pria pertama langsung terkulai pingsan tanpa sempat memekik. Pria kedua yang memegang alat retas terperanjat, namun sebelum dia bisa berteriak, hantaman siku dari Reno mendarat telak di dagunya. Sendi rahangnya terkunci, membuat pandangannya gelap seketika dan ambruk di atas karpet.Seluruh proses itu berlangsung kurang dari tiga detik. Efisien, bersih, dan tanpa keributan.Reno memungut camcorder kecil yang jatuh dari tangan pria tadi. Ia memutar ulang rekaman singkat di dalam layar. Di sana terlihat foto-foto sudut Suite 808 serta rekaman audio instruksi dari suara Dion
"Lima belas menit, Yang Mulia Reno Elric," suara Albert terdengar mantap dari balik sambungan telepon. "Armada helikopter dan tim pengawal utama Elric Group sedang menuju helipad rooftop Grand Hotel. Dokter pribadi juga sudah bersiap."Reno menyandarkan bahunya ke dinding luar hotel untuk menghindari terpaan hujan deras. Tangan kanannya mengusap sisa darah hangat di sudut bibirnya."Siapkan Presidential Suite 801," perintah Reno datar. "Aku butuh mandi dan ganti pakaian.""Apakah perlu saya perintahkan pasukan khusus Elric Group untuk meratakan Grand Hotel dan menyeret Tuan Muda Dion malam ini juga, Yang Mulia?" desak Albert penuh ketundukan."Jangan," balas Reno seraya mengulas senyuman dingin. "Penghancuran yang terlalu cepat itu membosankan, Albert. Biarkan mereka menikmati puncak kemenangan palsunya beberapa jam lagi. Besok pagi di hadapan seluruh media dan jajaran investor, kita runtuhkan mereka sampai ke akarnya.""Petunjuk diterima, Yang Mulia."Reno mematikan sambungan telepon
"Bawa dokumen itu ke sini sekarang, Pak Hendra!" perintah Shena dengan suara melengking menembus deru hujan lebat.Pintu besi jalur servis belakang Grand Hotel kembali terdorong kasar. Shena melangkah keluar terlindung di bawah payung hitam besar yang dipegangkan oleh seorang pria berjas necis berkacamata minus.Pria itu adalah Hendra, pengacara senior dari Firma Hukum Wijaya.Di bawah guyuran air hujan yang membasahi aspal kotor, Reno perlahan tegak berdiri seraya menyapu ceceran darah hangat di dagunya. Mata elangnya menatap lurus ke arah dua orang yang melangkah angkuh mendekatinya."Kamu sengaja membawa pengacara malam-malam begini cuma untuk mengusir pria yang kamu sebut sampah, Shena?" tanya Reno dengan suara datar."Pria sampah sepertimu memang butuh penanganan hukum yang bersih agar tidak menjadi benalu di masa depanku!" seru Shena seraya tersenyum puas.Shena berhenti dua langkah dari genangan air kotor di dekat kaki Reno. Dia menatap kemeja putih mantan suaminya yang robek b
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.