Pikiranku masih terjebak di balkon semalam, di kata-katanya yang menggantung seperti kabut tebal, bayangan Arhan, dan aku tidak mengerti apa maksudnya sampai sekarang."Kamu pilih," kata Rey, suaranya datar sengaja, matanya menatap layar yang gelap.Aku menggulir daftar film dengan jari yang gemetar, tapi mataku berhenti di satu judul yang familiar, film tentang kereta api dan dua orang asing yang bertemu dan jatuh cinta dalam satu malam di Wina. Film yang kutonton dengan Arhan. Film yang kupikir romantis, tapi berakhir dengan kepergian tanpa kepastian, seperti kami, seperti semua yang pernah kumiliki dan hilang."Ini," kataku, menekan tombol putar tanpa berpikir panjang, seolah dengan memutar ulang kenangan yang salah aku bisa mengubahnya menjadi benar.Rey tidak protes.Dia hanya mengangguk, bersandar di sudut sofa dengan lengan di sandaran dan kaki terentang santai, tapi aku melihat bahunya tegang, seolah setiap detik film ini adalah detik yang
Last Updated : 2026-08-28 Read more